Satu ruang kubiarkan terisi kalimat ajaib...sengaja kusediakan untuk terapi hati agar tak terlanjur membatu ...wahai hati jikalau kau bercermin maka kau tak ubahnya bagai kubangan lumpur yg tak berair
Sungguh kau tak pandai bersyukur dengan nikmat yang tak habis....Duhai pemilik pengendali diri...sesungguhnya kau tak buta akal dan hati seketika kau terjaga dlm kesedihan berbalut jelaga...sungguh hati tak berdusta tabib terbaik adalah suara panggilan nurani.Biarkan jeda waktu bercengkrama dgn kalimat ajaib
Senin, 04 April 2011
PAKAIANKU
Apalah arti pakaianku jika hati dan jiwaku hanya sekumpulan batu
Mengapa Selalu menipu antara yang nyata dan maya
Bukankah Tak satupun yang sanggup menipu bagi sang Pencipta jiwa
Sekalipun begitu pandai kita didunia
Sungguh Pakaianku bagai seluit transparan yang menelanjangi setiap rongga nafasku
Pakaian bukankah hanya pembungkus tubuh
Tubuh yang memiliki jiwa dan juga malu
Tubuh yang memiliki rasa dan juga amarah
Lalu apalah artinya pakaian untukku jika kutak tau apa yg harus kututupi
Sungguh...aku kehilangan pakaianku
Mana kala kuingin menutupi rasa malu dan juga kemarahanku
Bukan...bukan sekedar untuk menutupi tubuhku melainkan menutupi seluruh auratku
Sungguh...hati ini bagai batu..terus saja membatu hingga kutak tau warnanya hatiku
Pakaianku terus saja ku pandangi...
Jika mungkin berubah menjadi pakaian kematianku
Lalu kemudian aku sungguh faham apa arti pakaian dalam kehidupanku
Seperti juga engkau wahai saudarariku...sungguh aku ingin seperti engkau
Menemukan pakaian sejatimu sebagai wanita muslim sesungguhnya..
Apa yang memberatkanku...
Antara baktiku atau keiklasan yang semu
Sungguh aku tengah bertarung dengan pilihanku
Antara Cinta...Amarah..Pesakitanku...juga kesemuan yang menjengahkan naluriku
Sesungguhnya pilihanku telah diujung akal pikiranku....
MENGENANG MASA ITU
Rumah berdinding bilik disuatu tempat dilereng bukit..
Lampu lampu oncor dan suara alunan musik kecapi
Terdengar lamat lamat terkirim angin
Siapakah yang meniup seruling suaranya sanggup membelah hati
Tapi lebih tersayat lagi ketika suara santri bergemuruh berzikir seusai sholat magrib
Malam diujung sunyi diantara suara habib alkhafi berzikir
Terdengar suara para santri berlari menenteng kitab suci
Sungguh aku terkesima semua takut tertinggal di suraw tua
Berlomba untuk khatam malam ini
Subhanallah...
Aku terkenang masa kecil ketika harus sembunyi sembuyi saat mengaji
Karena harus hafal satu ayat pendek surah an nass
aku takut hadir di sebuah langgar kecil tempat mengaji
Hingga selesai waktu mengaji bersembunyi didalam beduk hingga waktu magrib
Sungguh senyumku mengembang menginggat masa kecil yang terpaksa khatam alquran
Sanggat jauh dari para santri yg berlomba khatam bahkan menjadi seorang hafizh
Ketika harus belajar tajwid harus pula mengalami hal pait
setiap kesalahan harus menerima hukuman dengan pengaris kayu
Hingga kuku jariku menghitam karena sering salah membaca
Tapi ketika melihat para santri bersuka cita berlomba menjadi hafizh
Sungguh membuat tulang uzurku menjadi ngilu sampai kehati
Demikian ketika mereka mengaji suaranya sungguh indah luar biasa
Satu ayat sanggup meruntuhkan air mata karena keindahan para qoriah
Bertilawah dengan tartil dan tajwid yang sempurna
Sungguh hati terobati dengan malam yang luar biasa indah
Sekalipun bukan yang pertama tapi keindahan ini bagaikan candu yang ingin terus berulang
Suasana sunyi yang perawan dengan senandung para santri menginggatkan masa kecilku disuatu malam
Dimana akupun sanggup menyelesaikan khatam pertamaku diusia 10 tahun...
Dengan luka lebam diujung buku buku jariku...

Langganan:
Postingan (Atom)