Entri Populer

Selasa, 21 Juni 2011

OPERA DALAM SYAIR KUPU KUPU

 
oleh Mawar Kikan / Bilqis Kusuma pada 14 Juni 2011 jam 22:40


Seekor kupu kupu berdongeng
Kepada kupu kupu lainya
tentang indahnya taman mawar
Bahkan Bercerita tentang Angin...
juga tentang sang lak laki mimpi
lalu menciptakan syair yang dibaca lantang ditaman berduri
mewakili rasa sang angin


Engkau
Menatap dalam setiap kalimat sumbang
Menelanjangi setiap jengkal syair pincang
merambat waktu pada titik lesumu
menyapa angin yang tak juga mengeliat manja padamu

Siapa engkau wahai...
Menatap lekuk angin tak berkedip
Meraba angin yang tak sanggup kau baca tegas
merayap jengah  mencandai kegamangan
Mencela angin dengan rasa puas
Ketika menyapa engkau di pagi yg gerah
memaksa untuk  merasakan hal yang sama

Siapa Engkau
Suaramu tegas bagai badai
Menancap asa pada angin yg gusar
Sungguh kau menyapa hati
Namun angin terlalu angkuh untuk kau cumbui

Duhai engkau
Kata katamu bak aliran syair yg sakau dengan lantuman
Meratakan  nuansa hening hingga sampai pusaran hasrat
Mendekap hangat bait bait sunyi memalung kearah mata angin

Kemudian kau diam
Tak lagi berkata kata bak sang penyair
Suaramupun sudah tak lagi nanar bagai elang
Kau kelelahan menantang angin
Kau terdiam tertampar angin
Lalu kau palingkan wajah bagai engan menyapa

Duhai engkau
Terkadang angin hanya lalu lalang menyapa mu
Mungkin hanya semilir  desir menyentuh rambutmu
atau desah letih yang sempat kau tangkap dari lenguh sang angin
Entahlah hanya sempat kutangkap pesannya(Kupu kupu)

Ada rasa yang singgah menampar hatinya
Mungkin sekumpulan rindu tentang engkau mendekap angin
Bahkan tentang keabsurdtan yg kau baca tentang musim yang terbagi
Kau tetap ada didalam nya jangan pernah menguap tak bersisa
Jangan pernah pergi walau kau tak pernah ada
Menjadikan cinta mu bagai cinta platonis bagi sang angin
Terjaga rapi disingah sana hati
Tak tersentuh
Bahkan kau tak tau dimana angin...


Seekor kupu kupu terbang tinggi...mencari sang angin
Menyampaikan pesannya sudah diikrarkan ditaman mawar berduri
Kepada Sang laki laki mimpi

· · Bagikan · Hapus

PERJALANAN HATI


oleh Mawar Kikan / Bilqis kusuma pada 17 Juni 2011 jam 6:44

Perjalanan itu membawa anganmu terbang kecakrawalaku
Menelusuri belukar hati diantara kabut hitam pekatku
Adakah mimpi kosong yang hendak kau tawarkan kepadaku
Duhai..
Engkau imajinasi Suffiku

Perjalanan Kekampung mu
Dengan rindu pelukkan sang ibu
Kau berdongeng tentang Cinta
Menuturkan masa lalu yang serupa
Dalam jejak yang berbeda
Duhai...
Engkau telah ada diruangku

Perjalanan menuju hati dalam rentang waktu tak berdetik
Kau katakan dengan lugas ada pesan hati yang tak inginkau tipu
Entah putih entah pula hitam legam demikian pesan harus terucapkan
Sedangkan aku telah pula tau sejak kau berada dikelopak mata dan hatiku

Perjalanan itu adalah perjalanan ruh
Antara kau dan aku
Bukan Hasrat bersetubuh yang menisbikan keindahan ruh
Melainkan penyatuan ruh suci yang bersujud tunduk
Menikmati rahmat cinta tanpa harus tersentuh raga

Perjalan itu membawa ruh suci menuju langit
Gerhana bulan mengunci kisah persatuan dua Ruh asing
Ikrarkan sepotong rasa yang tak ingin kita tinggalkan
Dalam janji disebuah perjalan Menuju kampung hati

Hal yang terindah kau katakan
Aku telah hantarkanmu kecakrawala cinta nan luas
Dengar aku bahagia
Cukuplah itu sebagai pertanda  yg menjadikannya  perjalan menuju hati
Hingga suatu ketika sang suffi hadir di singa sana hati tampa dusta


KABUT TAK SANGGUP MENGABURKAN CINTA

oleh Mawar Kikan pada 20 Juni 2011 jam 5:11

Aku tak adil mencemburuimu
Seharusnya tak demikian dengan yang halal untukmu
Maaf aku bicara pada hatiku
Kemudian kusampaikan pada angin yang mengulung rasaku

Jika tersampaikan itu karena kutak sanggup menyimpan rahasiaku
Kuharap kau tak mendengar agar kau tak menoleh sedikitpun kepadaku
Biarkan segalanya pada tempat yang seharusnya
Tidak juga kuminta sebagian rahasia hati yang kau simpan kepadaku

Aku tak adil mengintip engkau dari lubang rahasia
Memandang sekilas saja tentang kidung asmaranti yang telah sampai di laci hati
Bukan…bukan aku tak menangis
Tapi tangisku cukuplah aksara berurai lirik dalam bait bait pincangku

Kau ada memang untuk sebuah alasan
Keabadian yang membuat engkau tertancap dalam lorong lorong hati
Tentang awal dan ketakutan akan akhir
Demikian ia tumbuh dan mekar tampa bantuan sang musim

Aku tak adil menghakimimu sebagai yang tak dipercaya
Karena dia ada sebelum aku ada…
Karena kita menyepakati tentang cinta yang tak menyentuh raga
Namun telah  terpasung seluruh hati dan rasa
Pada janji yang kita gantungkan pada langit

Dengar jika kabut dihutan belantara sanggup menyembunyikan
 Bunga dan kupu kupu dari pandangan mata
Tapi sang kabut tidak akan sanggup mengaburkan cinta dari hati kita.

Panas diladang kering biarlah hanya musim tentang padi yang menguning
Bukan tentang terik yang begitu gerah mana kala aku hanya diam tampa sapa
Cukupkan aku bahagia dengan secawan cinta yang kuteguk
 Dan kunikmati tampa harus aku menjadi mabuk  lupa akal dan kolbum salim.

PETIKAN SETANGKAI SYAIR UNTUKKU

Oleh Mawar Kikan / Bilqis Kusuma  pada 20 juni 2011

Juni di akhir penghujung
Canda sang balada dari negri langit
Turun hantarkan seikat syair untuk kucium
Pada kelopak kelopak kata
Pada putik putik rasa
Lalu menebarkan wewangian hati

Ditaman mana syair dipetik
Indahnya bagai bunga seroja dari arsy
Aku inginkan satu tangkai syair
yang kau kirimkan dari negri hati
Tanpa utusan kau hadiahkan kepadaku
Pilihkan syair yang terbaik untuk kusimpan
Ingin kutuliskan pada pita emas pengikat
Bahwa syair itu milikku

Kemudian kau  harus melupakan syair itu pernah kau tulis
Namun tinta yg tertahta tak akan kering dari jangkauan rasamu
Ingat syair itu adalah syair tentang nafasku

SAHABAT DALAM CAKRAWALA IMAJINASI TALENTA

oleh Mawar Kikan /Bilqis kusuma pada 20 Juni 2011 jam 7:53
 
Malam beranjak pekat dalam ruang sunyi
Aku meraba asa..ketika nyaris nafas ku terhenti
Ketika sunyi demikian sekarat
Aku mengelana kenegri asing
Ada resah mengantung diantara dinding membisu
Bebauan aroma obat menjalar kesetiap nadi
Ach...ruang tak lagi menyekat raga
Peraduan bagai tirani pikiran yang sakit
Aku tak beranjak
aku tetap membungkam nurani menjerit
Lalu kukumpulkan naluriku
Menyapa demensi sunyi kepada kawan dinegriasing
Aku tak disini seharusnya
Tapi aku tak ingin terpasung
Dan aku menyapa mu dengan instink
Kubalut dengan nurani tampa prasangka
Agar kau hadir sebagai sahabat hati diantara kalut yang terbalut
Dengar kau ada dalam imajinasi beraura positif
Lalu kita berdiskusi kesegala penjuru
Melihat arah mata angin
Juga menghitung malam yang semakin tua
Dengar adalah bintang yang berpijar
Aku percaya disingasana yang terbaik kita bercengkrama
Jendela kita terbuka selebar bola dunia
Karena engkau sahabat dalam imajinasi talenta
Jangan pergi sebelum matahari menerangi perputaran bumi
Disini kau dan aku telah menjadi sahabat hati

Minggu, 19 Juni 2011

THEOGONIA TENTANG KITA

Bagai Theogonia tentang kelahiran para dewa
Aku tersenyum dengan sederet abjad abjad buta
Mengiring sebagian jiwaku terbang kelangit
Melintasi cakrawala asa hingga merapat kedinding hati
Duhai dimana engkau sanggup kudekap dalam  imajinasi tak terbatas


Aku manggilmu dalam bisikkan angin semilir rindu
Mendulang sekumpulan debu asaku
Untuk kujadikan susunan bebatuan hasrat suci
Yang kusimpan diam diam
Membumbungkan galaksi rasa
Kepada antariksa jiwa yang lama terkapar tak beraga

Kemilau batinku bagai pualam  terangi lelangit luas
Mimpiku baru saja kumulai dengan terompet cinta sang anumerta rasa
Perlahan kujaring abjad abjad buta menjadi sekumpulan syair bianglala
Indah merona tebarkan  haru serta selipkan putik bahagia
Diujung sisa rasa yang kupunya

Engkaukah yang terpilih
Dari sekian ruang yang terjaga dalam teralis tak berwujud
Dengar hari ini adalah janji atas nama rahim bunda

Kalam Sang  Aprodit  sampaikan bait bait  indah
Tentang utusan langit yag diutus  menuju gunung olimpus
Ach.... aku mengalaxi kenegri antariksa dilangit tak berujung
Menyepakati  janji disebuah detik tak bermenit 
Ketika anumerta rasa kembali beranjak pulang kedunia meditasi
Dewi hades di dunia bawah hati telah mencairkan jelaga rasa
Sanggupkah kusungi rasa yang membuncah menuju pelangi

Sungguh tak akan sanggup kumenata runtuhan langit
Jika janji ini hanya kidung dinegri tanpa nama
Demikian kupasrahkan kepada hermes utusan dewa zeus
Untuk menjaga theogonia tentang kita.
Mengabadikan sekilas saja cerita dewa langit
Yang bermenung di negri tampa ruang