Bagai Theogonia tentang kelahiran para dewa
Aku tersenyum dengan sederet abjad abjad buta
Mengiring sebagian jiwaku terbang kelangit
Melintasi cakrawala asa hingga merapat kedinding hati
Duhai dimana engkau sanggup kudekap dalam imajinasi tak terbatas
Aku manggilmu dalam bisikkan angin semilir rindu
Mendulang sekumpulan debu asaku
Untuk kujadikan susunan bebatuan hasrat suci
Yang kusimpan diam diam
Membumbungkan galaksi rasa
Kepada antariksa jiwa yang lama terkapar tak beraga
Kemilau batinku bagai pualam terangi lelangit luas
Mimpiku baru saja kumulai dengan terompet cinta sang anumerta rasa
Perlahan kujaring abjad abjad buta menjadi sekumpulan syair bianglala
Indah merona tebarkan haru serta selipkan putik bahagia
Diujung sisa rasa yang kupunya
Engkaukah yang terpilih
Dari sekian ruang yang terjaga dalam teralis tak berwujud
Dengar hari ini adalah janji atas nama rahim bunda
Kalam Sang Aprodit sampaikan bait bait indah
Tentang utusan langit yag diutus menuju gunung olimpus
Ach.... aku mengalaxi kenegri antariksa dilangit tak berujung
Menyepakati janji disebuah detik tak bermenit
Ketika anumerta rasa kembali beranjak pulang kedunia meditasi
Dewi hades di dunia bawah hati telah mencairkan jelaga rasa
Sanggupkah kusungi rasa yang membuncah menuju pelangi
Sungguh tak akan sanggup kumenata runtuhan langit
Jika janji ini hanya kidung dinegri tanpa nama
Demikian kupasrahkan kepada hermes utusan dewa zeus
Untuk menjaga theogonia tentang kita.
Mengabadikan sekilas saja cerita dewa langit
Yang bermenung di negri tampa ruang
Sip...
BalasHapus