Baru kusadari harapan itu tak jelas untuk kumiliki
Cintamu tak seindah pelangi yang hiasi senjaku hingga angan melambung tinggi
Baru kufahami bahwa kau semakin tak jelas untuk mengikat janji
Cintamu bak sebuah ilusi yang hanya hadir bagaikan sair puisi
Terlalu indah memang...bahkan terlalu membekas dihati
Namun apalah arti semua janji jika kau hadirkan hanya lewat mimpi
Cintamu hanya angan kosong yang kau penuhi hatiku dengan imajinasi
Namun kini kusadari kau hanya sekedar tamu yang singgah dihati
Karena kau tak lagi ingin berbagi untuk ciptakan mimpi kedalam dunia fana ini
Mana yang akan kau beri ....janji sehidup semati atau janji yang kau ingkari
Bukankah kita telah mengikat sebuah janji yang ingin kita raih sebagai cinta yang abadi yang senantiasa menghiasi rumah kita suatu saat nanti...
Namun janji adalah janji yang kemudian merampas mimpi
Baru kusadari kita tak lagi sama
Rasa yang ada padaku tak pernah berubah
Mengapa rasamu kini tak jelas kau bagi
Cintamu hanya angan kosong.... cukuplah buatku untuk memahami
Bahwa demikianlah takdir menentukan cinta yang tak kumiliki
Hingga aku menerima segala sesuatu yang mungkin terbaik untuk kita akhirnya
Cukuplah air mataku menetes...bukan karena perih tapi karena tuhan telah menentukan yang terbaik buat kita...
Cintamu hanya angan kosong
Kesedihan sesaatku cukuplah buatku kembali berdiri
Cinta tak selamanya harus saling memiliki
Namun aku yakin batas perihku akan berakhir
Hingga cinta sejatiku akan hadir yang mengalungiku pelangi indah dan mentari harapan buatku...menyongsong esok hari nan indah...
Minggu, 05 Desember 2010
Air mataku
Apa yang harus kukatakan...
Bibirku terasa kelu untuk sekedar bergumam
Air mata perlahan jatuh berurai
Hingga asaku mengembara hingga tak tentu arah
hatiku resah...gundah ...hingga tak kuasa meleleh segumpal resah
Aku hanya diam..memandang gelap tak berbintang
Kesunyian perlahan mengusik nelangsa di ruang sunyiku
Kemana cintaku...kemana rindu yang memenuhi ruang hatiku
Perlahan kurasakan lengang dan diam pelan pelan
Hatiku bagai tertinggal dalam kenangan yg kusimpan
Apa yang harus kukatakan...
Kau menghilang dan tak lagi tinggalkan pesan
Catatanmu hanya catatan usang tak ada lagi catatan kita untuk malam ini
Air mataku bergulir bak mata air mengalir diantara perih..
Kemana kah engkau kekasih ...hingga nelangsaku tak jua pergi
Bibirku terasa kelu untuk sekedar bergumam
Air mata perlahan jatuh berurai
Hingga asaku mengembara hingga tak tentu arah
hatiku resah...gundah ...hingga tak kuasa meleleh segumpal resah
Aku hanya diam..memandang gelap tak berbintang
Kesunyian perlahan mengusik nelangsa di ruang sunyiku
Kemana cintaku...kemana rindu yang memenuhi ruang hatiku
Perlahan kurasakan lengang dan diam pelan pelan
Hatiku bagai tertinggal dalam kenangan yg kusimpan
Apa yang harus kukatakan...
Kau menghilang dan tak lagi tinggalkan pesan
Catatanmu hanya catatan usang tak ada lagi catatan kita untuk malam ini
Air mataku bergulir bak mata air mengalir diantara perih..
Kemana kah engkau kekasih ...hingga nelangsaku tak jua pergi
KAU HADIR SESAAT UNTUKKU
Malam tak pernah usai menyanyikan kidung hingga kehatiku
Hingga aku tertegun dengan sebaris kata yang membuatku tertunduk
Ada rasa yang bergemuruh memintal kesunyianku
mana kala sesat kunikmati sebaris kata yang demikian indah
Kau hadir sesaat untukku
Setelah sekian waktu tak kudengar kata ajaibmu
Malamku begitu ramai
Karena kata ajaibmu melambungkan kenangan sekian waktu
Ada kebahagiaan tak terkendali
tapi ada juga haru ...perih...yang menyeruak dari relungku
Kau bagai angin disunyiku
Membelai hati hingga tangisku tak terbendung
Kau hadir sesaat untukku bisikkan kata ajaib yang lama tak kusentuh
Apa yang ingin kau berikan
Cinta kita telah lama berlalu
Sekalipun kau ada dilubuk hatiku bukankah sebaiknya kau tak lagi menyapa relungku
Bukan karena kumembencimu...bukan karena kau tak memilikku
Melainkan sesuatu yang memang tak pernah menjauh...
Sekalipun kehidupan kita tak sama seperti yang dulu..
Kau hadir tidak sekedar menyapaku, tetapi kau mulai menginggatkan masa lalu
Kau hadir sesaat untukku haruskah kau ganggu hatiku
Haruskah kau katakan padaku bahwa kau masih mencintaiku
Haruskah kukatakan hal yang sama yang akan menengelamkan hatiku
Hingga air mata kembali jatuh satu persatu
Sudahlah....kau hadir hanya sesat
Lupakan cinta yang akan menghancur kan hati kita
Biarlah sesaat pesan tampa suara berakhir di malam yang gelap
Karena cukuplah buat kita bahwa kehidupan kita tak lagi sama
Kau bagian dalam alur cerita hidupku
Berhentilah jangan pernah mendekat lebih jauh
Jaga hatimu hati kita untuk sesuatu yang tak lagi pantas kita sentuh
Cukuplah kau hadir sesaat dengan kata ajaibmu
Hingga sampai kapanpun tak kuijinkan kau hadir sekalipun sesaat untukku
Mengertilah...bahwa kata ajaib itu tak seharusnya kau lahirkan dalam ucapanmu
Cukuplah air mataku menerimamu sebagai tamu terakhir di hatiku...
Lupakan cerita kita ...
Jika kau tak pandai menjaga kata
Lupakan sesuatu yang indah tentang kita...
Mengertilah air mataku jawaban untuk pertanyaanmu....
Jangan kau katakan apapun...diamlah...selamanya...
Karena tak kuijinkan telingaku mendengar kata kata yang tidak akan membuat kita menjadi lebih baik....
Percayalah...
Hingga aku tertegun dengan sebaris kata yang membuatku tertunduk
Ada rasa yang bergemuruh memintal kesunyianku
mana kala sesat kunikmati sebaris kata yang demikian indah
Kau hadir sesaat untukku
Setelah sekian waktu tak kudengar kata ajaibmu
Malamku begitu ramai
Karena kata ajaibmu melambungkan kenangan sekian waktu
Ada kebahagiaan tak terkendali
tapi ada juga haru ...perih...yang menyeruak dari relungku
Kau bagai angin disunyiku
Membelai hati hingga tangisku tak terbendung
Kau hadir sesaat untukku bisikkan kata ajaib yang lama tak kusentuh
Apa yang ingin kau berikan
Cinta kita telah lama berlalu
Sekalipun kau ada dilubuk hatiku bukankah sebaiknya kau tak lagi menyapa relungku
Bukan karena kumembencimu...bukan karena kau tak memilikku
Melainkan sesuatu yang memang tak pernah menjauh...
Sekalipun kehidupan kita tak sama seperti yang dulu..
Kau hadir tidak sekedar menyapaku, tetapi kau mulai menginggatkan masa lalu
Kau hadir sesaat untukku haruskah kau ganggu hatiku
Haruskah kau katakan padaku bahwa kau masih mencintaiku
Haruskah kukatakan hal yang sama yang akan menengelamkan hatiku
Hingga air mata kembali jatuh satu persatu
Sudahlah....kau hadir hanya sesat
Lupakan cinta yang akan menghancur kan hati kita
Biarlah sesaat pesan tampa suara berakhir di malam yang gelap
Karena cukuplah buat kita bahwa kehidupan kita tak lagi sama
Kau bagian dalam alur cerita hidupku
Berhentilah jangan pernah mendekat lebih jauh
Jaga hatimu hati kita untuk sesuatu yang tak lagi pantas kita sentuh
Cukuplah kau hadir sesaat dengan kata ajaibmu
Hingga sampai kapanpun tak kuijinkan kau hadir sekalipun sesaat untukku
Mengertilah...bahwa kata ajaib itu tak seharusnya kau lahirkan dalam ucapanmu
Cukuplah air mataku menerimamu sebagai tamu terakhir di hatiku...
Lupakan cerita kita ...
Jika kau tak pandai menjaga kata
Lupakan sesuatu yang indah tentang kita...
Mengertilah air mataku jawaban untuk pertanyaanmu....
Jangan kau katakan apapun...diamlah...selamanya...
Karena tak kuijinkan telingaku mendengar kata kata yang tidak akan membuat kita menjadi lebih baik....
Percayalah...
SENYUMMU MENUSUK JANTUNGKU MALAM ITU
Malamku berbulir embun...
Dingin merengkuh tubuhku diantara ilalang
Aku berdiam diantara bayangan hingga kutertegun menatap rembulan
Sunyiku tiba tiba terbakar hentakkan rasaku hingga igauanku kegadis berambut panjang
Duhai malamku yang bertabur bintang sampai kan salamku pada gadis impianku
Katakan padanya kutunggu kehadirannya dibebatuan dingin yang membisu
Rinduku bak pungguk yang menanti hadirnya rembulan
Kirannya gadis ku berambut panjang akan datang saat kuundang
Kutitipkan selembar lontar bertuliskan gurindam
Agar pujaanku hatinya berurai dengan rindu yang tak tertahankan
Malamku berbulir embun...
Dingin mengigit hingga terasa bagai bertabur rindu yang mengelisahkan hati dan rasaku
Kemana gadisku hingga tak sabar kupeluk dalam dekapku
Sungguh cinta membuatku gundah namun kegembiraanku bagai tak terkata
Lama kumenunggu...hingga kau datang kepadaku dengan senyum rindu yang mengembang..
Malamku tak lagi berbutir embun....
Perlahan kehangatan menyentak rongga nafasku
Wangi rambutmu yang terurai kunikmati dalam genderang hatiku
Kiranya penantianku tak lagi seperti burung hantu...
Karena kerinduanku bersamamu malam ini terangkai dengan nyanyian hati kita
Duhai kekasih hati...untaian kata tak cukup selesaikan kerinduan ini
mendekatlah padaku ijinkan kubisikkan sesuatu agar hatimu penuh dengan cinta putihku...
Sayangku...
Maukah kau menjadi pengantinku...
Mendengarkan ikrar suci di antara malaikat kebaikan disurau didesa kita
Menikmati malam pertama yang halal bagi kita
Menghadiahkan kepadaku buah cinta yang luar biasa indah
Malamku tak lagi berbulir embun
Kehangatan tiba tiba mengalir diantara pembuluh darahku
Gadis berambut panjang kekasihku
Mengangguk lunglai dalam dekapanku...
Matanya berbinar bak bintang kejora
Tersenyum menusuk jantungku
Kiranya kekasihku menerima lamaranku malam itu........
Dingin merengkuh tubuhku diantara ilalang
Aku berdiam diantara bayangan hingga kutertegun menatap rembulan
Sunyiku tiba tiba terbakar hentakkan rasaku hingga igauanku kegadis berambut panjang
Duhai malamku yang bertabur bintang sampai kan salamku pada gadis impianku
Katakan padanya kutunggu kehadirannya dibebatuan dingin yang membisu
Rinduku bak pungguk yang menanti hadirnya rembulan
Kirannya gadis ku berambut panjang akan datang saat kuundang
Kutitipkan selembar lontar bertuliskan gurindam
Agar pujaanku hatinya berurai dengan rindu yang tak tertahankan
Malamku berbulir embun...
Dingin mengigit hingga terasa bagai bertabur rindu yang mengelisahkan hati dan rasaku
Kemana gadisku hingga tak sabar kupeluk dalam dekapku
Sungguh cinta membuatku gundah namun kegembiraanku bagai tak terkata
Lama kumenunggu...hingga kau datang kepadaku dengan senyum rindu yang mengembang..
Malamku tak lagi berbutir embun....
Perlahan kehangatan menyentak rongga nafasku
Wangi rambutmu yang terurai kunikmati dalam genderang hatiku
Kiranya penantianku tak lagi seperti burung hantu...
Karena kerinduanku bersamamu malam ini terangkai dengan nyanyian hati kita
Duhai kekasih hati...untaian kata tak cukup selesaikan kerinduan ini
mendekatlah padaku ijinkan kubisikkan sesuatu agar hatimu penuh dengan cinta putihku...
Sayangku...
Maukah kau menjadi pengantinku...
Mendengarkan ikrar suci di antara malaikat kebaikan disurau didesa kita
Menikmati malam pertama yang halal bagi kita
Menghadiahkan kepadaku buah cinta yang luar biasa indah
Malamku tak lagi berbulir embun
Kehangatan tiba tiba mengalir diantara pembuluh darahku
Gadis berambut panjang kekasihku
Mengangguk lunglai dalam dekapanku...
Matanya berbinar bak bintang kejora
Tersenyum menusuk jantungku
Kiranya kekasihku menerima lamaranku malam itu........
Biarlah
Kau yang hadir dikesunyianku
Membisikkan nyanyian cinta semusim di penghujung tahun
Taukah engkau bahwa syairmu mencairkan hatiku
Seperti kidung diantara kisi kisi hatiku
Yang kini merekah diantara gerimis rinduku
Kau yang hadirkan melodi cinta
Menebar rasa indah rata keseluruh jiwaku
Satu persatu hatiku bagai kau sirami kasihmu yang menyentuh
Hingga kurindu bersandar dalam pelukkanmu
Biarlah kunikmati rasaku yang melangit
Menari diantara anganku tentang hadirmu malam ini
Jangan menjauh karena aku inginkan dirimu mendekapku dengan cintamu
Karena semusim belum cukup kumerajut hasratku menikmati senyummu
Biarlah aku sabar menunggu saat kau hadir dalam kesempatan waktu
Membisikkan nyanyian cinta semusim di penghujung tahun
Taukah engkau bahwa syairmu mencairkan hatiku
Seperti kidung diantara kisi kisi hatiku
Yang kini merekah diantara gerimis rinduku
Kau yang hadirkan melodi cinta
Menebar rasa indah rata keseluruh jiwaku
Satu persatu hatiku bagai kau sirami kasihmu yang menyentuh
Hingga kurindu bersandar dalam pelukkanmu
Biarlah kunikmati rasaku yang melangit
Menari diantara anganku tentang hadirmu malam ini
Jangan menjauh karena aku inginkan dirimu mendekapku dengan cintamu
Karena semusim belum cukup kumerajut hasratku menikmati senyummu
Biarlah aku sabar menunggu saat kau hadir dalam kesempatan waktu
Nyanyian pengantin dibelukar perdu
Seperti rusa betina yang menari dipadang rumput
Meliuk liuk diantara belukar perdu yang kering
duhai siapakah gerangan yang tengah mencuri perhatian
Hingga kau meliuk liuk mengundang hasrat pejantan
Agar mendekat dan memburumu dengan jalang
Matamu berkedip berbinar bagai kunang kunang bercahaya
sinarnya tajam dan liar
Hasrat cinta seperti aura yang terbang hingga mengisyaratkan birahi betina
Wewangian bunga hutan seperti tetabuhan pengantin hutan
Hingga pejantan datang mendekat dan meloncat girang
Duhai rusa betina bertanduk elegan bagai mahkota yang menghias kepala
Langkahmu mulai tak beraturan hingga pejantan datang menghampiri dengan perkasa
Nyanyianpengantin di padang rumput diantara belukar perdu
Sepasang pengantin Rusa berpangutan dengan indah dan seirama
Dedaunan kering berguguran diakhir semusim
Bagai nuansa pengantin berdekorasi pepohonan rindang
Selesailah sebuah babak dari perjalanan rusa betina
dalam kehidupan liar yang berirama bersama rusa pejantannya
Demikianlah cinta sepasang rusa diantara ilalang liar
Meliuk liuk diantara belukar perdu yang kering
duhai siapakah gerangan yang tengah mencuri perhatian
Hingga kau meliuk liuk mengundang hasrat pejantan
Agar mendekat dan memburumu dengan jalang
Matamu berkedip berbinar bagai kunang kunang bercahaya
sinarnya tajam dan liar
Hasrat cinta seperti aura yang terbang hingga mengisyaratkan birahi betina
Wewangian bunga hutan seperti tetabuhan pengantin hutan
Hingga pejantan datang mendekat dan meloncat girang
Duhai rusa betina bertanduk elegan bagai mahkota yang menghias kepala
Langkahmu mulai tak beraturan hingga pejantan datang menghampiri dengan perkasa
Nyanyianpengantin di padang rumput diantara belukar perdu
Sepasang pengantin Rusa berpangutan dengan indah dan seirama
Dedaunan kering berguguran diakhir semusim
Bagai nuansa pengantin berdekorasi pepohonan rindang
Selesailah sebuah babak dari perjalanan rusa betina
dalam kehidupan liar yang berirama bersama rusa pejantannya
Demikianlah cinta sepasang rusa diantara ilalang liar
PERAHU MILIK KITA
oleh Kusumaning Palupi pada 27 November 2010 jam 1:29
Pernah kau tau bahwa tali yang terkait nyaris terlepas karena tak juga kau toleh
Atau sengaja kau biarkan danau ditemani perahu kusam hingga terik membakar nyaris renta
Jika tak ingin kau toleh lepaskan saja tambang yang mengait
bukankah tak ingin kau naikki perahu renta yang tak lagi berupa perahu indah
Atau memang ingin kau kendarai untuk melalui luas samudra
Agar perahu renta hadapi badai yang dasyat lalu tengelam bersama
Malam selalu saja berbisik tentang nyanyian semusim dikala langit tak berbatas
Jauh memandang tetap saja hamparan yang tak berujung
Jika rembulan masih tergantung bersama gemintang yang berurai
Lalu adakah badai akan memecahkan perahu renta tampa nahkoda
Tidak demikian kita bersepakat karena perahu renta adalah sebuah tanda mata
Bahkan sebuah perjanjian yang kita sepakati bersama
Atur langkah kita agar perjalanan menuju samudra manapun bukan sebuah kendala
Kau yang akan menjadi nahkoda dan aku yang menjadi layar terkembang
Atau kita ubah saja haluan agar semua tak nampak bagai ditengah lautan
Jangan menatap ku... karena aku sangat mampu menyembunyikan rasaku
Tapi jika kau tatap hatiku dgn asamu maka akan luluh segenap rasaku
Demikianlah kita mengendarai bersama perahu yang renta menuju sebuah samudra
Tak penting badai dan gelombang karena bersama kita mampu menghadapinya
Dengar....suara peluit gaib memangil...
Bukan kah sebuah tanda bahwa bahaya ada dihadapan
Aku dan kau harus persiapkan jejaring cinta harus kita kaitkan
kita harus berbenah untuk merubah perahu kusam menjadi kapal dengan layar indahku
Atau kita akan terlepas satu persatu sebelum kita hadapi peperangan yg sesungguhnya
Dimana perahu kita yang akan menyelamatkan kita dari peluit gaib yang memillukan
Jika kita tak lagi berencana melakukan perjalanan yang membuat kita berperang melawan badai
Maka kita tak akan siap hadapi gelombang sekecil apapun itu...
Aku adalah layarmu yang selalu rindu berlayar dengan nahkodaku
Karena kurindukan merubah perahu menjadi sebuah kapal
hingga layar ku melengkapi keeksotisan yang elegan

ca. 1990, Monaco --- Sailboat During Classic Week --- Image by Michel Setboun/Corbis
Ingat peluit gaib telah memanggil
Persiapkan hati kita hingga bagai seruling yang nyaring berirama lambada
Karena aku selalu ada menemani setiap tangga tangga kebangkitan
Tak pernah satu anak tangga kuabaikan dalam setiap membenahi perahu yang kian renta..
Yang kuinginkan menolehlah sejenak agar kau tau bahwa aku menunggu nahkodaku...
CATATAN MASA KECIL YANG INDAH
Sekedar menengok dari guratan masa kecilku
Aku gadis tomboy dengan rambut sebahu yang tak pernah berpita unggu
Bahkan aku tak peduli dengan penampilanku dengan celana pendek dan kaos dalam ku
Segerombol laki laki yang belum akilbalik adalah kawananku
Yang setiap hari berkumpul didepan musola kecil disamping rumahku
Teman kecilku dalam duniaku yang penuh canda
Terkadang kami sibuk menghitung hitung buah salam atau buah kersen yang kuambil di kebun tetangga
Aku sang komandan...huhh...teman priaku tak sanggup mencapai ranting dan memetik buah buahnya
Dengan bahagiannya kusebar hasil curian dikebun tetangga sambil kukaitkan kaki diantara rantingnya
Haii...tangkap buah buahannya....hmmm
Kenangan masa kecil yang terindah sangat membekas dan luar biasa indah
Bahkan kenangan pohon cemara terkadang membuatku tersenyum
Bagai mana tidak setiap usai jam makan siang aku harus tidur siang, sungguh bosan dengan rutinitas anak rumahan.
Sementara segerombol teman priaku yang belum akil balik teriak teriak memangilku
untuk bermain layangan.
Hmm...aku harus berfikir bagai mana caranya keluar rumah tampa ketahuan ayah
Ahayyyy....aku harus naik genting lalu melewati rumah tetangga
Karena asik bermain jam mengaji kami lupakan
tak ayal aku dan beberapa temen laki lakiku yang asik bermain layang layang, dihukum dibelakang rumah
Terdengar dari dinding bersebelahan kami dihukum dengan cara yang sama...
orang tua yang tak mengerti indahnya masa kanak kanak.. pikir ku saat itu

Masih teringat dikepalaku, saat bersepeda mengelilingi komplek di tempat tinggalku
Kemana anak wanita , semua tak ada yang menjadi temanku...
aku bahagia berada diantara teman pria yang disekelilingku, bersama mereka aku merasa bagai seorang ratu kecil..ahay...tak ada yang berani mengangguku
Kecuali satu anak laki laki yang bertubuh gendut...hmm bukan cuma aku , anak laki laki lainpun gak ada yang berani berbuat ulah dengannya.
Namanya Komar anak pelatih batminton di komplekku.
Anak anak komplek sejak sd sudah dilatih diklub badminton, jam mengaji di mesjid nurul yakin selalu ramai dengan santri kecilnya, termasuk diriku.
Setiap waktu hafalan ayat ayat pendek, beberapa anak kadang bermain diluar krn takut mendapat pukulan pengaris kayu yg disiapkan dimeja...karena tidak siap menghafal
Usai mengaji, menunggu magrib aku dan temen temen mulai dengan berbagai permainan, ada saja setiap musimnya, kadang main kelereng, petak umpet, balapan sepeda, layang layang bahkan perang perangan.waktu bermain tak pernah habis selalu saja ada permainan yang mengasikkan..
Bahkan suatu malam saat asik bermain sepeda , ayahku marah dan mencari cariku,karena jam belajar sangat ketat dari ayah.
Beberapa temen menyampaikan padaku bahwa ayahku mencariku dengan alat pukul yang biasa di hadiahkan buat kenakalanku.
Ayah sempat melihatku dan mengejarku...aku lari sekuat tenaga dan naik kepohon cemara yang cukup tinggi , ayah hanya teriak teriak dibawah menyuruhku turun....
aku tak bergerming, aku tetap diam diatas pohon karena khawatir ayah akan menyusul keatas ,aku naik ranting yang tertinggi.
Malam itu aku terayun ayun diatas pohon..serasa terbang...indah sekali diatas pohon melihat bintang dan bulan ...hmm...semua orang di komplek keluar meneriakkan agar aku turun, bahkan tetanggaku ada yang mencoba naik. tapi tak mampu meraihku di ranting yang tinggi.
Ahay...kenakalanku luar biasa, membuat heboh dikomplek perumahanku, akhirnya turun juga aku dan menyelinap masuk kedalam rumah.huh...apes ternyata ayahku pura pura tidur akhirnya kuterima jeweran dari ayah...seperti biasa aku dihukum menghitung perkalian 1 sampai 10.
Buatku kemarahan ayah merupakan cara mendidikku walau disiapkan juga pemukul dari buluh bambu yang setiamemukul pantatku, walau pukulannya tidak keras tapi aku takut jika bambu itu dikeluarkan ayah sebagai senjata terakhirnya.
Teman bermainku, engkus, fery, apri, heri, firman, eko dan supril mereka adalah teman masa kecilku, setiap berangkat kesekolah kami selalu bersama, dengan berjalan kaki kami bercanda dengan riangnya.Hal yang terindah adalah saat pulang sekolah dimana banyak rencana bermain sudah dipersiapkan, bermain dan terus saja bermain, namun meranjak SD kelas 5 kami sudah mulai belajar bersama, setiap PR kami kerjakan berkelompok. aku senang belajar dengan Supril dan Eko. dan satu temen sekolah bernama amir kekompakkan dimasa kecil kadang membuat cemburu temen temen wanita, tapi aku memang lebih suka bergaul dengan temen laki laki karena dengan mereka aku bisa adu ketangkasan yang luar biasa menyenangkan.
Masa itu teramat manis, bahkan aku bisa mengingatnya dengan detail, sengaja aku ingin mengenang masa kecil bersama sahabat sahabatku, dengan menulis beberapa saja kenangan itu .
Setelah SMA kami berpencar satu sama lain, jarang kami berkirim kabar, karena kesibukan masing masing. Hingga aku mengenal fB maka disini kutemukan kembali kenangan masa kecilku, sungguh kenangan yang luar biasa hebat sekalipun kenakalan kenakalan kami , kadang mengemaskan orang tua kami.Supril yang kuliah di UGM, eko kuliah di UNS solo, amir yang entah kuliah dimana, begitu pula temenku yang lain aku tak tau dimana rimbanya, sedangkan aku yang diterima di UNJAB jambi fak hukum, akhirnya memutuskan untuk ke semarang kuliah di AKPARI.
Perjalanan yang penuh warna, telah membawa segala kenangan lambat laun pudar, namun ketika kembali teman masa kecil bertegur sapa maka keindahan yang terlupakan 30 tahun akhirnya hadir dengan penuh, walau harus diingat ingat saat saat lucu kala waktu bermain serasa tak ingin berakhir.
Teman kecilku ,taukah bahwa kenangan indah itu penyemangat kehidupanku, karena kebahagiaan yang paling murni dan tulus adalah pertemanan yang tiada pamrih apapun.
Jika kau ingat kenakalanku, aku akan tertawa dengan suka cita...sungguh aku senang kita diberi kesempatan bertegur sapa, sukses untuk kalian temanku.

Aku gadis tomboy dengan rambut sebahu yang tak pernah berpita unggu
Bahkan aku tak peduli dengan penampilanku dengan celana pendek dan kaos dalam ku
Segerombol laki laki yang belum akilbalik adalah kawananku
Yang setiap hari berkumpul didepan musola kecil disamping rumahku
Teman kecilku dalam duniaku yang penuh canda
Terkadang kami sibuk menghitung hitung buah salam atau buah kersen yang kuambil di kebun tetangga
Aku sang komandan...huhh...teman priaku tak sanggup mencapai ranting dan memetik buah buahnya
Dengan bahagiannya kusebar hasil curian dikebun tetangga sambil kukaitkan kaki diantara rantingnya
Haii...tangkap buah buahannya....hmmm
Kenangan masa kecil yang terindah sangat membekas dan luar biasa indah
Bahkan kenangan pohon cemara terkadang membuatku tersenyum
Bagai mana tidak setiap usai jam makan siang aku harus tidur siang, sungguh bosan dengan rutinitas anak rumahan.
Sementara segerombol teman priaku yang belum akil balik teriak teriak memangilku
untuk bermain layangan.
Hmm...aku harus berfikir bagai mana caranya keluar rumah tampa ketahuan ayah
Ahayyyy....aku harus naik genting lalu melewati rumah tetangga
Karena asik bermain jam mengaji kami lupakan
tak ayal aku dan beberapa temen laki lakiku yang asik bermain layang layang, dihukum dibelakang rumah
Terdengar dari dinding bersebelahan kami dihukum dengan cara yang sama...
orang tua yang tak mengerti indahnya masa kanak kanak.. pikir ku saat itu

Masih teringat dikepalaku, saat bersepeda mengelilingi komplek di tempat tinggalku
Kemana anak wanita , semua tak ada yang menjadi temanku...
aku bahagia berada diantara teman pria yang disekelilingku, bersama mereka aku merasa bagai seorang ratu kecil..ahay...tak ada yang berani mengangguku
Kecuali satu anak laki laki yang bertubuh gendut...hmm bukan cuma aku , anak laki laki lainpun gak ada yang berani berbuat ulah dengannya.
Namanya Komar anak pelatih batminton di komplekku.
Anak anak komplek sejak sd sudah dilatih diklub badminton, jam mengaji di mesjid nurul yakin selalu ramai dengan santri kecilnya, termasuk diriku.
Setiap waktu hafalan ayat ayat pendek, beberapa anak kadang bermain diluar krn takut mendapat pukulan pengaris kayu yg disiapkan dimeja...karena tidak siap menghafal
Usai mengaji, menunggu magrib aku dan temen temen mulai dengan berbagai permainan, ada saja setiap musimnya, kadang main kelereng, petak umpet, balapan sepeda, layang layang bahkan perang perangan.waktu bermain tak pernah habis selalu saja ada permainan yang mengasikkan..
Bahkan suatu malam saat asik bermain sepeda , ayahku marah dan mencari cariku,karena jam belajar sangat ketat dari ayah.
Beberapa temen menyampaikan padaku bahwa ayahku mencariku dengan alat pukul yang biasa di hadiahkan buat kenakalanku.
Ayah sempat melihatku dan mengejarku...aku lari sekuat tenaga dan naik kepohon cemara yang cukup tinggi , ayah hanya teriak teriak dibawah menyuruhku turun....
aku tak bergerming, aku tetap diam diatas pohon karena khawatir ayah akan menyusul keatas ,aku naik ranting yang tertinggi.
Malam itu aku terayun ayun diatas pohon..serasa terbang...indah sekali diatas pohon melihat bintang dan bulan ...hmm...semua orang di komplek keluar meneriakkan agar aku turun, bahkan tetanggaku ada yang mencoba naik. tapi tak mampu meraihku di ranting yang tinggi.
Ahay...kenakalanku luar biasa, membuat heboh dikomplek perumahanku, akhirnya turun juga aku dan menyelinap masuk kedalam rumah.huh...apes ternyata ayahku pura pura tidur akhirnya kuterima jeweran dari ayah...seperti biasa aku dihukum menghitung perkalian 1 sampai 10.
Buatku kemarahan ayah merupakan cara mendidikku walau disiapkan juga pemukul dari buluh bambu yang setiamemukul pantatku, walau pukulannya tidak keras tapi aku takut jika bambu itu dikeluarkan ayah sebagai senjata terakhirnya.
Teman bermainku, engkus, fery, apri, heri, firman, eko dan supril mereka adalah teman masa kecilku, setiap berangkat kesekolah kami selalu bersama, dengan berjalan kaki kami bercanda dengan riangnya.Hal yang terindah adalah saat pulang sekolah dimana banyak rencana bermain sudah dipersiapkan, bermain dan terus saja bermain, namun meranjak SD kelas 5 kami sudah mulai belajar bersama, setiap PR kami kerjakan berkelompok. aku senang belajar dengan Supril dan Eko. dan satu temen sekolah bernama amir kekompakkan dimasa kecil kadang membuat cemburu temen temen wanita, tapi aku memang lebih suka bergaul dengan temen laki laki karena dengan mereka aku bisa adu ketangkasan yang luar biasa menyenangkan.
Masa itu teramat manis, bahkan aku bisa mengingatnya dengan detail, sengaja aku ingin mengenang masa kecil bersama sahabat sahabatku, dengan menulis beberapa saja kenangan itu .
Setelah SMA kami berpencar satu sama lain, jarang kami berkirim kabar, karena kesibukan masing masing. Hingga aku mengenal fB maka disini kutemukan kembali kenangan masa kecilku, sungguh kenangan yang luar biasa hebat sekalipun kenakalan kenakalan kami , kadang mengemaskan orang tua kami.Supril yang kuliah di UGM, eko kuliah di UNS solo, amir yang entah kuliah dimana, begitu pula temenku yang lain aku tak tau dimana rimbanya, sedangkan aku yang diterima di UNJAB jambi fak hukum, akhirnya memutuskan untuk ke semarang kuliah di AKPARI.
Perjalanan yang penuh warna, telah membawa segala kenangan lambat laun pudar, namun ketika kembali teman masa kecil bertegur sapa maka keindahan yang terlupakan 30 tahun akhirnya hadir dengan penuh, walau harus diingat ingat saat saat lucu kala waktu bermain serasa tak ingin berakhir.
Teman kecilku ,taukah bahwa kenangan indah itu penyemangat kehidupanku, karena kebahagiaan yang paling murni dan tulus adalah pertemanan yang tiada pamrih apapun.
Jika kau ingat kenakalanku, aku akan tertawa dengan suka cita...sungguh aku senang kita diberi kesempatan bertegur sapa, sukses untuk kalian temanku.

TIGA PULUH LIMA TAHUN YANG LALU
Kau teman kecil dalam sebuah cerita indah dimasa lampau
Waktu berjalan menguliti langkah kita
Sesaat masih tersisa tapak nafas di dunia masa kecil yang tak terhapus
Perlahan kita kembali bersua di jejaring dunia maya yang tetap jenaka
Celoteh kita bagai balita yang lupa akan usia
Keriangan tak serta merta terhapus dengan perjalanan usia
Kisah pertemanan yang cantik elegegan dan unik
Perpaduan kecomelan kita bercengkrama pada sebuah titik
Masih kah kalian sempatkan tersenyum tentang kelucuan yang yang tertinggal dijejak yang lampau
Sungguh tak mungkin kita ingkari kenakalan yang cerdik memonopoli setiap permainan
Bahkan dikesempatan yang minim kenangan sisi balik masa lampau tak mudah pudar...

Jika ingin kutengok kembali jejak tua yang kian tersisih
Bukan untuk membedakan sesuatu yang telah tertinggal dan saat kini
Bukan pula sekedar membandingkan segala sesuatu yang tertulis didalam kitab sang widhi
Kita adalah ruh dari jiwa jiwa yang sama ..dan dari pengalan pengalan yang lampau
Bukankah setiap yang kita ingat adalah sekelompok kawanan yang selalu riang dalam bermain
Ceritaku adalah sebuah kerinduan tentang teman kecil yang lama terlupakan
Saat kita saling bersapa, tetap saja kita tak pernah berbeda
Sungguh kenikmatan persahabatan yang luar biasa
Mana kala kita tetap saling mencela dari keriangan yang memang lahir dari rasa
Jika ada masa kita bersua dalam kesempatan yang dipilih
Maka kita tak ubahnya seperti kanak kanak di 35 tahun yang lalu..
Wajah wajah kita tak lagi seperti usia balita bahkan terlau penuh dengan kerut kerut usia
Namun senyum kita...hati kita adalah teman balita yang tak pernah merasa tua

Cerita tentang masa kecil tak akan pernah menjadi manula
Walau akhirnya usia kita akan mendekati usia senja
Bahkan kenangan masa kecil tetap terpatri di hati kita
Sama halnya kisah kisah tetua tentang cerita lamanya
Semoga kita selalu dalam kenangan manis
Selalu dilimpahkan kesehatan serta keleluasaan mencari berkah
Selalu dimudahkan rizki dan barokah...
Teman kecilku tak lama waktu kita berhitung
Kalian teman kecil yang special buatku.
andai kita bisa saling bertandang
Maka akan kuhidangan makanan terlezatku
Karena kalian tau aku gadis kecil diantara teman pria kecilku
35 tahun yang lalu.

Waktu berjalan menguliti langkah kita
Sesaat masih tersisa tapak nafas di dunia masa kecil yang tak terhapus
Perlahan kita kembali bersua di jejaring dunia maya yang tetap jenaka
Celoteh kita bagai balita yang lupa akan usia
Keriangan tak serta merta terhapus dengan perjalanan usia
Kisah pertemanan yang cantik elegegan dan unik
Perpaduan kecomelan kita bercengkrama pada sebuah titik
Masih kah kalian sempatkan tersenyum tentang kelucuan yang yang tertinggal dijejak yang lampau
Sungguh tak mungkin kita ingkari kenakalan yang cerdik memonopoli setiap permainan
Bahkan dikesempatan yang minim kenangan sisi balik masa lampau tak mudah pudar...

Jika ingin kutengok kembali jejak tua yang kian tersisih
Bukan untuk membedakan sesuatu yang telah tertinggal dan saat kini
Bukan pula sekedar membandingkan segala sesuatu yang tertulis didalam kitab sang widhi
Kita adalah ruh dari jiwa jiwa yang sama ..dan dari pengalan pengalan yang lampau
Bukankah setiap yang kita ingat adalah sekelompok kawanan yang selalu riang dalam bermain
Ceritaku adalah sebuah kerinduan tentang teman kecil yang lama terlupakan
Saat kita saling bersapa, tetap saja kita tak pernah berbeda
Sungguh kenikmatan persahabatan yang luar biasa
Mana kala kita tetap saling mencela dari keriangan yang memang lahir dari rasa
Jika ada masa kita bersua dalam kesempatan yang dipilih
Maka kita tak ubahnya seperti kanak kanak di 35 tahun yang lalu..
Wajah wajah kita tak lagi seperti usia balita bahkan terlau penuh dengan kerut kerut usia
Namun senyum kita...hati kita adalah teman balita yang tak pernah merasa tua

Cerita tentang masa kecil tak akan pernah menjadi manula
Walau akhirnya usia kita akan mendekati usia senja
Bahkan kenangan masa kecil tetap terpatri di hati kita
Sama halnya kisah kisah tetua tentang cerita lamanya
Semoga kita selalu dalam kenangan manis
Selalu dilimpahkan kesehatan serta keleluasaan mencari berkah
Selalu dimudahkan rizki dan barokah...
Teman kecilku tak lama waktu kita berhitung
Kalian teman kecil yang special buatku.
andai kita bisa saling bertandang
Maka akan kuhidangan makanan terlezatku
Karena kalian tau aku gadis kecil diantara teman pria kecilku
35 tahun yang lalu.

Nikmatnya bersama asap II
Apa yang membuatmu kesal mana kala kebingungan mencari sebungkus rokok
Kemarahan yang teramat sangat keasikkanmu merasa terusik
Bahkan sebuah korek pun sangat berteman akrap dengan sebungkus rokok
Tak boleh dipisah walau hanya beberapa menit
Kemarahan yang kacau membuatmu seperti tak terkendali
Namun ketika kau temukan teman setia mu
Lalu kemudian tenang dan menikmati seorang diri
begitu tenang hingga sunyi dan tak bersuara
Jika kau duduk diam seperti seorang autis yang tak bergerak
Tapi jemarimu terus saja menaari dengan pandangan nanar yang jauh
lalu apa yang diotaklmu hingga kau nikmati tampa henti bahkan tak ingin berhenti
Apa bisa kau jamin hidupmu mampu setahun...dua atau tiga tahun kedepan
Lalu...apakah cukup kau sembunyikan kebiasaan buruk agar tak nampak
lalu kau mengendap endap mencari tempat menyendiri untuk menikmati asap

Apa yang kau dapati dari asap yang meracuni
Bukankah hatimu tak menipu apa yang sesungguhnya terbaik untukmu
Belajarlah untuk meninggalkan kebiasaan buruk karena hatimu memerintahkan untuk berhenti
wajahmu menampakkan letih, separah itukah gelisah membuatmu tak peka dengan nurani
atau demikianlah kau bersembunyi dari kata kata hingga diam membuatmu melayang
Bahkan terlalu tenang dan tampa ekspresi
wajahmu tak beraura kusam tampa cahaya
bukankah bertanda usia semakin terkuras
lalu cukupkah kau nikmati asap hingga selesai waktu yang kau sepakati

Kemarahan yang teramat sangat keasikkanmu merasa terusik
Bahkan sebuah korek pun sangat berteman akrap dengan sebungkus rokok
Tak boleh dipisah walau hanya beberapa menit
Kemarahan yang kacau membuatmu seperti tak terkendali
Namun ketika kau temukan teman setia mu
Lalu kemudian tenang dan menikmati seorang diri
begitu tenang hingga sunyi dan tak bersuara
Jika kau duduk diam seperti seorang autis yang tak bergerak
Tapi jemarimu terus saja menaari dengan pandangan nanar yang jauh
lalu apa yang diotaklmu hingga kau nikmati tampa henti bahkan tak ingin berhenti
Apa bisa kau jamin hidupmu mampu setahun...dua atau tiga tahun kedepan
Lalu...apakah cukup kau sembunyikan kebiasaan buruk agar tak nampak
lalu kau mengendap endap mencari tempat menyendiri untuk menikmati asap

Apa yang kau dapati dari asap yang meracuni
Bukankah hatimu tak menipu apa yang sesungguhnya terbaik untukmu
Belajarlah untuk meninggalkan kebiasaan buruk karena hatimu memerintahkan untuk berhenti
wajahmu menampakkan letih, separah itukah gelisah membuatmu tak peka dengan nurani
atau demikianlah kau bersembunyi dari kata kata hingga diam membuatmu melayang
Bahkan terlalu tenang dan tampa ekspresi
wajahmu tak beraura kusam tampa cahaya
bukankah bertanda usia semakin terkuras
lalu cukupkah kau nikmati asap hingga selesai waktu yang kau sepakati

Nikmatnya bersama asap I
oleh Kusumaning Palupi pada 29 November 2010 jam 15:29
Apa sih nikmatnya asap
bukankah hal itu tak memberikan manfaat apa apa...
Apa sih rasanya asap
bukankah hanya kepulan putih pekat yang beraroma cengkeh dan tembakau
Demikianlah jemarimu begitu pandai bermain dengan sebatang rokok
Bahkan matamu terpejam bermain main asap diantara bibirmu yang terkatup tak begitu rapat
Sesungguhnya kau tau asap hanya meracuni dirimu
Lalu kenapa kau begitu nikmat bahkan terlalu asik bercengkrama bersama asap
Apa sih manfaatnya asap
Jika saat kau selipkan dibibirmu hanya hawa panas yg perlahan menyentuh lidahmu
Bahkan segelas kopi panas semakin membuatmu gila besama asap
Pahamkah tulisan yang tertera dalam kemasan asap akan meracuni tubuhmu
Bahkan perlahan menjemput nyawamu
Asap menjadi temanmu yang setia
Bahkan waktu tidurmu berkurang hanya untuk bersama asap
Lalu kemudian menikmati sunyi dengan asap yang terburai
Demikian kau racuni tubuhmu dengan sadar dan penuh keasikkan

bukankah hal itu tak memberikan manfaat apa apa...
Apa sih rasanya asap
bukankah hanya kepulan putih pekat yang beraroma cengkeh dan tembakau
Demikianlah jemarimu begitu pandai bermain dengan sebatang rokok
Bahkan matamu terpejam bermain main asap diantara bibirmu yang terkatup tak begitu rapat
Sesungguhnya kau tau asap hanya meracuni dirimu
Lalu kenapa kau begitu nikmat bahkan terlalu asik bercengkrama bersama asap
Apa sih manfaatnya asap
Jika saat kau selipkan dibibirmu hanya hawa panas yg perlahan menyentuh lidahmu
Bahkan segelas kopi panas semakin membuatmu gila besama asap
Pahamkah tulisan yang tertera dalam kemasan asap akan meracuni tubuhmu
Bahkan perlahan menjemput nyawamu
Asap menjadi temanmu yang setia
Bahkan waktu tidurmu berkurang hanya untuk bersama asap
Lalu kemudian menikmati sunyi dengan asap yang terburai
Demikian kau racuni tubuhmu dengan sadar dan penuh keasikkan

MUNAJAT DIKERUHNYA HATI
Jumat yang suci dikala sunyi
Berurai doa dikegundahan hati
Sunyi tak bersuara hingga lenggang dikesendirian yang tunduk
Bila air mata menetes bukan sedih untuk sesuatu yang pergi
melainkan sesuatu yang tertinggal dan sunyi
Jemari terus saja bertasbih berharap pencerahan datang memenuhi ruang hati
Jika kesempatan datang sekali ini maka aku sujud dalam tangis yang lapang
Jumat yang bening dikala sendiri
Berurai doa yang berbisik kedalam relung hati
Sudahkah rasa iklas berserah diri dalam satu masa yang datang memenuhi hati
Bila air mata menetes hingga sunyi tersa nikmat melambungkan raga bagai terbang mengangkasa
Sudahkah khusuk menjadi tamu agung dikala jumat yang suci
Seperti suara lantuman ayat ayat suci jiwaku terbang bagai tak terkendali
Demikian nikmat bermunajat dikeruhnya hati hingga tak mampu berhenti
Karena kenikmatan ini tak pernah kutemui
Jumat yang bersih manakala hati berserah diri
Berharap sebuah petunjuk dihadirkan dalam sebuah mimpi
Demikianlah saat sujud hati terpenuhi kenikmatan yang tak tak berukur
Hingga mata hati melihat dengan benar mana kebaikan mana kemungkaran
Siapa yang berbisik mengajarkan doa yang dititipkan semalam
Hati tetap bergetar hingga air mata tak sanggup kutahan
Nikmat yang tak pernah habis yng tak pernah kugenggam
Demikian munajat dikeruhnya hati kudapatkan sebuah pencerahan yg tak kuduga ia datang

Berurai doa dikegundahan hati
Sunyi tak bersuara hingga lenggang dikesendirian yang tunduk
Bila air mata menetes bukan sedih untuk sesuatu yang pergi
melainkan sesuatu yang tertinggal dan sunyi
Jemari terus saja bertasbih berharap pencerahan datang memenuhi ruang hati
Jika kesempatan datang sekali ini maka aku sujud dalam tangis yang lapang
Jumat yang bening dikala sendiri
Berurai doa yang berbisik kedalam relung hati
Sudahkah rasa iklas berserah diri dalam satu masa yang datang memenuhi hati
Bila air mata menetes hingga sunyi tersa nikmat melambungkan raga bagai terbang mengangkasa
Sudahkah khusuk menjadi tamu agung dikala jumat yang suci
Seperti suara lantuman ayat ayat suci jiwaku terbang bagai tak terkendali
Demikian nikmat bermunajat dikeruhnya hati hingga tak mampu berhenti
Karena kenikmatan ini tak pernah kutemui
Jumat yang bersih manakala hati berserah diri
Berharap sebuah petunjuk dihadirkan dalam sebuah mimpi
Demikianlah saat sujud hati terpenuhi kenikmatan yang tak tak berukur
Hingga mata hati melihat dengan benar mana kebaikan mana kemungkaran
Siapa yang berbisik mengajarkan doa yang dititipkan semalam
Hati tetap bergetar hingga air mata tak sanggup kutahan
Nikmat yang tak pernah habis yng tak pernah kugenggam
Demikian munajat dikeruhnya hati kudapatkan sebuah pencerahan yg tak kuduga ia datang

KUBIARKAN DIAMKU
Apa yang difikirkan tentang bayang bayang yang tak hilang
Apa yang diangankan jika tak nampak gambaran diatara pilihan
Jauh diantara batas yang di harap bagai sekilas lintas dalam impian
Jika suara sumbang yang kudengar hanya sebuah nyanyian yang tak bersyair
Maka kubiarkan angan kosong bermain dalam sebuah mimpi yang kuukir
Pada sebuah kenang yang tak juga kubagi untuk kunikmati
Lalu kubermain diantara keduanya
Hingga kunikmati bait bait yang kuatur sedemikian rupa
Jika pada batas sunyi kubiarkan diamku untuk berkeluh kesah
Lantas kutemui jejak langkah yang nyaris tak beranjak
Demikian itukah gundah bagai melucuti setiap sesak yang tak jelas
Jauh diantara batas yang diharap bagai sekilas lintas dalam impian
Bagaimana kuucapkan jika kata tak lagi bebas kututurkan
Seolah memenuhi dinding hati yang engan berteriak
Sungguh aku tersesat dalam ucapan yang lugas
Namun lambat laun menjadi sebuah kesedihan yang nampak jelas
Berhentilah menghujat lengang tampa kata
Berhentilah berteriak namun tak terdengar ketelinga
Demikian kau tak mampu berbuat apapun
Sekalipun lidahmu tak lagi bisa mengecap nikmat...

Apa yang diangankan jika tak nampak gambaran diatara pilihan
Jauh diantara batas yang di harap bagai sekilas lintas dalam impian
Jika suara sumbang yang kudengar hanya sebuah nyanyian yang tak bersyair
Maka kubiarkan angan kosong bermain dalam sebuah mimpi yang kuukir
Pada sebuah kenang yang tak juga kubagi untuk kunikmati
Lalu kubermain diantara keduanya
Hingga kunikmati bait bait yang kuatur sedemikian rupa
Jika pada batas sunyi kubiarkan diamku untuk berkeluh kesah
Lantas kutemui jejak langkah yang nyaris tak beranjak
Demikian itukah gundah bagai melucuti setiap sesak yang tak jelas
Jauh diantara batas yang diharap bagai sekilas lintas dalam impian
Bagaimana kuucapkan jika kata tak lagi bebas kututurkan
Seolah memenuhi dinding hati yang engan berteriak
Sungguh aku tersesat dalam ucapan yang lugas
Namun lambat laun menjadi sebuah kesedihan yang nampak jelas
Berhentilah menghujat lengang tampa kata
Berhentilah berteriak namun tak terdengar ketelinga
Demikian kau tak mampu berbuat apapun
Sekalipun lidahmu tak lagi bisa mengecap nikmat...

Langganan:
Komentar (Atom)