oleh Kusumaning Palupi pada 27 November 2010 jam 1:29
Pernah kau tau bahwa tali yang terkait nyaris terlepas karena tak juga kau toleh
Atau sengaja kau biarkan danau ditemani perahu kusam hingga terik membakar nyaris renta
Jika tak ingin kau toleh lepaskan saja tambang yang mengait
bukankah tak ingin kau naikki perahu renta yang tak lagi berupa perahu indah
Atau memang ingin kau kendarai untuk melalui luas samudra
Agar perahu renta hadapi badai yang dasyat lalu tengelam bersama
Malam selalu saja berbisik tentang nyanyian semusim dikala langit tak berbatas
Jauh memandang tetap saja hamparan yang tak berujung
Jika rembulan masih tergantung bersama gemintang yang berurai
Lalu adakah badai akan memecahkan perahu renta tampa nahkoda
Tidak demikian kita bersepakat karena perahu renta adalah sebuah tanda mata
Bahkan sebuah perjanjian yang kita sepakati bersama
Atur langkah kita agar perjalanan menuju samudra manapun bukan sebuah kendala
Kau yang akan menjadi nahkoda dan aku yang menjadi layar terkembang
Atau kita ubah saja haluan agar semua tak nampak bagai ditengah lautan
Jangan menatap ku... karena aku sangat mampu menyembunyikan rasaku
Tapi jika kau tatap hatiku dgn asamu maka akan luluh segenap rasaku
Demikianlah kita mengendarai bersama perahu yang renta menuju sebuah samudra
Tak penting badai dan gelombang karena bersama kita mampu menghadapinya
Dengar....suara peluit gaib memangil...
Bukan kah sebuah tanda bahwa bahaya ada dihadapan
Aku dan kau harus persiapkan jejaring cinta harus kita kaitkan
kita harus berbenah untuk merubah perahu kusam menjadi kapal dengan layar indahku
Atau kita akan terlepas satu persatu sebelum kita hadapi peperangan yg sesungguhnya
Dimana perahu kita yang akan menyelamatkan kita dari peluit gaib yang memillukan
Jika kita tak lagi berencana melakukan perjalanan yang membuat kita berperang melawan badai
Maka kita tak akan siap hadapi gelombang sekecil apapun itu...
Aku adalah layarmu yang selalu rindu berlayar dengan nahkodaku
Karena kurindukan merubah perahu menjadi sebuah kapal
hingga layar ku melengkapi keeksotisan yang elegan

ca. 1990, Monaco --- Sailboat During Classic Week --- Image by Michel Setboun/Corbis
Ingat peluit gaib telah memanggil
Persiapkan hati kita hingga bagai seruling yang nyaring berirama lambada
Karena aku selalu ada menemani setiap tangga tangga kebangkitan
Tak pernah satu anak tangga kuabaikan dalam setiap membenahi perahu yang kian renta..
Yang kuinginkan menolehlah sejenak agar kau tau bahwa aku menunggu nahkodaku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar