Entri Populer

Selasa, 28 Desember 2010

SUDAHLAH


oleh Kusumaning Palupi pada 27 Desember 2010 jam 11:05
Selagi kita asik diam
Adakah angin terdengar lembut olehmu
Suara yang lama senyap
Semalam kembali ramah menyapaku

Hadir manakala lahir benih benih lembut manis
Jiwa tampa sadar telah dipersatukan
Lihatlah musim cinta di desember yang gerimis
Seolah bersemi di sungai dan ladang ladang

Sinar yang menembus kabut
Dari balik hujan  semesta alam
Kupejamkan mata siluit dirimu di dalam rangkaian otakku
Ach sudalah...saatnya kurebahkan tubuhku
Untuk  terlelap tampa terusik fikiranku

Demikianlah musim cinta menebar keseluruh hati hati yang lainnya
Bahkan musim panca roba tak juga mengusik hati hati lembut manis
Kemudian aku tertidur dalam nyanyian semusim
Sementara yang lainnya sibuk berdiskusi tentang rasa yang gamang...



Seperti perjanjian sang pengantin

Bilakah malam telah usai untukku
Hingga tersadar dari diammu
Seharusnya tak kau biarkan aku tampamu
Hingga  sempat kukehilangan kepercayaan itu

Bilakah kau mengerti bahwa luka itu tergores dihatiku
Meskipun aku tetap sama seperti dulu
namun tak ingin kutengelam lebih jauh
Harusnya semua yg tertoreh tak terjadi dalam diamku
Seharusnya kau ada saat kutersesat karenamu
lalu masih adakah kesempatan untuk berbenah langkah

Agar hidup lebih bermakna  tidak hanya sekedar hidup
Bilakah dapat merubah apa yg terlewati bagai pelangi indah tak tersentuh
Atau  hanya pelangi disebuah kanvas lusuh yg bisa tersentuh
Kemudian tak indah lagi  karena pudar lambat laun setelah waktu berlalu
kau tau bahwa keindahan itu milik kita
Harusnya semua terjaga dalam genggamanmu
lalu perlahan kesepakatan itu kita ikrarkan
Seperti janji pengantin dalam ikrar yang kita sepakati kemarin malam

Bilakah malam menjadi saksi
Bahwa satu masa dimana kita saling berbagi
Antara pilihan yang sama sama bukan pilihan
lalu kemudian semua bagai terlupakan
Hingga kita yakin bahwa dalam sebuah masa ada baik dan buruk
Ada suka ada pula duka
Lalu adakah  jalan terbaik setiap sesal yang kita sepakati
obati luka yg terlanjur tercipta

Perlahan lagit malam kurasakan dingin
kubiarkan  diamku dengan perjanjian yang tak tertulis
hanya sebuah kegalauan yang ingin kutepis
Bahwa tak ingin melukai  setiap perjalanan yang sudah tertulis dalam hidup
Sungguh demikian aku tetap dalam genggamanmu.
Sampai kapan pun demikian itu pilihanku
Tak akan kuubah lagi hingga ajal menjemput

BUKAN ITU

Jika rembulan separuh tak lagi bersinar bagai dahulu
Bukan karena awan hitam terselubung
Melainkan sisi lain diantara kabut yang berlalu
Sinar redup yang tergambar dari pantulan sinar yang membias sendu
Bukan karena nuasa abu abu tersirat diantara gelap  pandanganku
Namun air mata yang mengantung yang tak juga jatuh diatara kelopak mataku
Hingga yang kurasakan lengang tak bergaung

Jika sempat kau baca surat untuk hatiku
Maka tertulis disitu satu persatu tentang rasaku
Dalam tulisan yang cuma hatiku yang tau
Bahwa dalam hidup adalah sesuatu yang harus diperjelas
Bukan berbagi aib melainkan berbagi sesak
Bukan berbagi kebohongan melainkan bicara  tentang kejujuran

Jika hatiku merasa muak
Bukan karena mencaci hati hati yang tersesat
Melainkan suara hatiku yang berteriak menghujat kebohongan yang terlihat jelas
Jangan pernah menipu rasa sekalipun kau pandai berdusta
Hatiku bicara diantara kebenaran yang demikian nyata
Bukan agar terlihat baik
Bukan pula ingin dikatakan baik

Jika sudut yang terdalam bergegas mencari jawab diatara tanya
Maka hatikupun berkata " Sudahlah hatimu tak cukup ruang untuk berdusta"
Bilakah semua usai dalam sekejab seperti sinar rembulan yang kemudian lenyap
Lalu tergantikan dengan langit gelap tampa batas
Kemudian lambat laun bermunculan bin

CERITA SEPARUH WAJAH

CERITA SEPARUH WAJAH

oleh Kusumaning Palupi pada 28 Desember 2010 jam 4:16
Sudahlah telah usai cerita separuh wajah kali ini
Bukan tentang rasa yang berubah arah
Bukan pula tentang rindu yang separuh
Mungkin sebuah galau yang sempat singgah
Hingga kudatang kepadamu berbagi cerita
Lalu kubiarkan mengendap secepat kilat lalu berlalu

Sudahlah telah berakhir sebuah benang benang merah
mengaliri pembuluh  darah hingga merata kesetiap sudut urat syarafku
Bukan karena adrenalinku yang tak terkontrol dengan sempurna
melainkan kutantang hatiku untuk berjibaku dengan kesadaranku
Mungkin sebuah halusinasi atau mungkin seperti kemarahanku
Hingga kuberada dalam sisi kegamanganmu
Lalu kubiarkan terhenti sejenak kemudian meninggalkan kau dengan rindumu

Maafkan bila waktu itu
Kubisikkan dan kukatakan
Aku butuhkan  engkau sebagai kekasih gelapku
Agar bisa berselingkuh dengan angan angan kosong
Agar bisa bersembunyi dari kemarahan yang terselubung

Sudalah telah usai  cerita separuh wajah
Bukan karena aku terbiasa
melainkan kesalahan yang disengaja
Karena tak demikian kita seharusnya
bersenda gurau diatara luka yang menganga
Sesungguhnya tak pernah ada cinta buat siapapun
demikian aku telah mati kan rasa..
lama sebelum kau mengenal separuh wajahku