Entri Populer

Senin, 04 April 2011

KAU DIDALAM SYAIRKU

Kau adalah kata kata yg kupinjam dr semisal rindu yg kupunggut dr tetesan hujan...Mengalir lembut diantara nyanyian angin yg sengaja kugenggam agar engkau tau...bahwa kumenunggu kau hadir dengan setangkai mawar hitam yg nantinya kau selipkan dikain kafan cintaku...Kau syair diruang kosong yg tersembunyi diantara bait bait yang kehilangan abjad...dengar aku mencintaimu tampa syarat Rinduku adalah bulir bulir air mata beku yg tak memuai dlm musim kemarau panjang....Kau adalah ruh dalam syair pincangku

SIMPONI GULALI MELANKOLIS

Duhai rembulan diujung kota diatas cakrawala berurai gemintang ...
Sampaikan nyanyian telisik rinduku pada kekasih berupa sang dewa krisna

Syimponi cintaku mengema diangkasa...manis bagai gulali madu sang dewi pujanga ..menebar aroma
sang maha cinta diantara surga bagi jiwa jiwa yg tengah bercinta...

Kidung suci bagai suara bidadari yg memanggil...mendekap erat hingga birahi menari diperapian bagi sang dewa krisna...
Pemujaan belum berakhir ketika syimponi mulai meninggi bagai candu cinta yg terkias ...

METEOR TAK BERPIJAR

Melesat sekelebat rasa bagai bebatuan diatara gugusan bintang.jika yg lain memilih bintang yg bersinar maka terpiih diantara ribuan lainnya.
sekalipun hanya sang meteor tampa cahaya.namun rasaku kutitipkan kepadamu.
Bersamamu kuikrarkan kegelapan itu tak ada bedanya karena meteorku adalah cinta yg menerangi hatiku...menerangi langkah dan juga mimpiku.sekalipun kau meteor tampa cahaya gemerlap.kini terjaga dalam rahim ajaibku
Hingga kulahirkan cinta sejati yg dititiskan lewat meteor tampa cahaya

MELINTASI MENDUNG DIANTARA ZIKIR KERING

Galaw di kesendirianku senja ini
Tak biasa kuhitung tetes hujan bagai engan tak berhenti.ramai bisikkan mengaung ditelinga kanan dan kiri seperti pertanda waktu akan berhenti

Mendung selalu saja datang ketika banyak rencana tengah kupersiapkan
Bukan takut badai datang melainkan hujan air mata turun diantara diam tak berkesudahan.

Mendung diantara zikir kering kukalungkan diantara sederet kain putih yg membisu tampa sulam...
Hanya satu keinginanku menuntaskan rencanaku hingga zikirku seperti sulaman indah

PELANTUM SUNYI

Kau legenda
ketika seabad lalu kutulis dalam kitabku
Bukan tentang sesuatu yang memikatku
dengan titik kilas cerita bisu
Melainkan sebuah jejak yang kau tapakkan dihatiku
Membekas diantara kisi hati dilorong lorong sunyiku
Bagai sang perindu tembangkan syair peluh diatara lelahmu

Kau kubiarkan bermain diantara riuh nya sang gelisah
Membuyarkan imajinasi liarku diantara bait bait sumbang
Mengertilah bahwa sesungguhnya aku bukan mimpi indahmu
Aku hanya pelantum sunyi yang terjaga rapat hatiku
Sekalipun kau singah bertutur tentang legenda tak bernyawa

Jika kubiarkan kau berada diantara lorong sunyiku
Karena ku ingin merengkuh sayap sayap retakmu
Mengajak kau berdiri tegak agar menjadi dewa bagi hatimu
Menjadi  sang penguasa dinegri antabratamu
Bukan menjadi pecundang di istanamu

Dengar aku pelantum sunyi
Setiap nyanyian zikirku kukalungkan sebagai doa bagimu
Agar kau layak sebagai mana seharusnya kau menjadi seorang raja
Karena aku hanya sebagai kotak ajaib mu yang menyimpan ceritamu

SANG PENGUASA EMPERAN JALAN

Buyar lamunanku
pada carut marut pemikiran tak berakal
Bukan tampa hati jika aku mulai memaki hitam legam kemunafikanmu
Berkaca pada tingkah laku yang tak bernurani
Kau paksa tirani yang kau jadikan singasanamu

Duhai engkau..
Layakkah kau berada di mimbar agungmu
Namun tingkah lakumu bagai musang berbulu tikus
yang tersampaikan hanya mimpi tak jelas
Menjadi pengembala bagi manusia manusia berakal
Nyatanya yg kau bagikan hanya telur busuk

Kau terus saja berkotek tentang pemerataan yang merakyat
Namun yang kuterima beras tegik yang tak layak
Seharusnya Sang penguasa Emperan adalah para gelandangan
Bukan engkau wahai sang gila hormat...
Bukan engkau wahai sang kutu loncat...
Ach...aku hanya marah pada jatah beras sang nenek tetangga disebelah rumah
Ternyata hanya sekantong  beras tengik dan krikil rucah

DIARY BIRU DALAM LEMARI JATIKU

Malam sudah larut nampaknya
Aku hanya menghitung bintang dari sisi jendela kaca
Kusapa angin agar dia menemani malamku ketika kubersenda guraw dengan tulisan
Ada sesuatu yg kurang mana kala belum kunina bobokan sang malam
Dengan cerita penaku dibuku harian warna biru

Satu persatu cerita harianku kuurai dalam kata semisal
Hanya sekedar jejak hidupku untuk hadiah bagi anak anakku
Kelak suatu saat nanti...
Mungkin sebagai kenangan yg kuabadikan lewat goresan pincang
Sengaja kukemas dalam banyak kanfas..agar tak nampak usang

Malam bagiku adalah taman bermainku
Dimana imaginasiku leluasa berfaktamorgana
Tak kuhiraukan dingin yg merayap...
Kenikmatanyapun sama dengan berimaginasi
Seperti candu...hingga lupa kapan saatnya tangan terhenti...

Diary biru dalam lemari jatiku
Adalah sekumpulan kisah yang kutulis dalam buku buku
Kutulis dengan Tinta hitam pekat agar tegas tulisan tersurat
Terkadang ada pula yang luntur termakan waktu
sekalipun aku punya deary terbuka Dalam Blog sederhanaku..
Hanya sekedar tulisan jika mungkin berkenan bagi yg selintas memandang..


Malam terus saja bergulir..
Embun pun sudah pula menyapa kaca jendela kamarrku
Saatnya kututup Deary Biruku
Untuk Merebahkan lelahku yang tak pernah kurasakan
Selamat malam Tempat bermain...imaginasi yang tak pernah berakhir...
Senantiasa Hidup sekalipun malam sudah berakhir


TABIB AJAIB DALAM JEDA WAKTU

Satu ruang kubiarkan terisi kalimat ajaib...sengaja kusediakan untuk terapi hati agar tak terlanjur membatu ...wahai hati jikalau kau bercermin maka kau tak ubahnya bagai kubangan lumpur yg tak berair
Sungguh kau tak pandai bersyukur dengan nikmat yang tak habis....Duhai pemilik pengendali diri...sesungguhnya kau tak buta akal dan hati seketika kau terjaga dlm kesedihan berbalut jelaga...sungguh hati tak berdusta tabib terbaik adalah suara panggilan nurani.Biarkan jeda waktu bercengkrama dgn kalimat ajaib

PAKAIANKU

Apalah arti pakaianku jika hati dan jiwaku hanya sekumpulan batu
Mengapa Selalu menipu antara yang nyata dan maya
Bukankah Tak satupun yang sanggup menipu bagi sang Pencipta jiwa
Sekalipun begitu pandai kita didunia
Sungguh Pakaianku bagai seluit transparan yang menelanjangi setiap rongga nafasku

Pakaian bukankah hanya pembungkus tubuh
Tubuh yang memiliki jiwa dan juga malu
Tubuh yang memiliki rasa dan juga amarah
Lalu apalah artinya pakaian untukku jika kutak tau apa yg harus kututupi

Sungguh...aku kehilangan pakaianku
Mana kala kuingin menutupi rasa malu dan juga kemarahanku
Bukan...bukan sekedar untuk menutupi tubuhku melainkan menutupi seluruh auratku
Sungguh...hati ini bagai batu..terus saja membatu hingga kutak tau warnanya hatiku

Pakaianku terus saja ku pandangi...
Jika mungkin berubah menjadi pakaian kematianku
Lalu kemudian aku sungguh  faham apa arti pakaian dalam kehidupanku
Seperti juga engkau wahai saudarariku...sungguh aku ingin seperti engkau
Menemukan pakaian sejatimu sebagai wanita muslim sesungguhnya..

Apa yang memberatkanku...
Antara baktiku atau keiklasan yang semu
Sungguh aku tengah bertarung dengan pilihanku
Antara Cinta...Amarah..Pesakitanku...juga kesemuan yang menjengahkan naluriku
Sesungguhnya pilihanku telah diujung akal pikiranku....

MENGENANG MASA ITU

Rumah berdinding bilik disuatu tempat dilereng bukit..
Lampu lampu oncor dan suara alunan musik kecapi
Terdengar lamat lamat terkirim angin
Siapakah yang meniup seruling suaranya sanggup membelah hati
Tapi lebih tersayat lagi ketika suara santri bergemuruh berzikir seusai sholat magrib


Malam diujung sunyi diantara suara habib alkhafi berzikir
Terdengar suara para santri berlari menenteng kitab suci
Sungguh aku terkesima semua takut tertinggal di suraw tua
Berlomba untuk khatam malam ini
Subhanallah...


Aku terkenang masa kecil ketika harus sembunyi sembuyi saat mengaji
Karena harus hafal satu ayat pendek surah an nass
aku takut hadir di sebuah langgar kecil tempat mengaji
Hingga selesai waktu mengaji bersembunyi didalam beduk hingga waktu magrib
Sungguh senyumku mengembang menginggat masa kecil yang terpaksa khatam alquran
Sanggat jauh dari para santri yg berlomba khatam bahkan menjadi  seorang hafizh


Ketika harus belajar tajwid harus pula mengalami hal pait
setiap kesalahan harus menerima hukuman dengan pengaris kayu
Hingga kuku jariku menghitam karena sering salah membaca
Tapi ketika melihat para santri bersuka cita berlomba menjadi hafizh
Sungguh membuat tulang uzurku menjadi ngilu sampai kehati
Demikian ketika mereka mengaji suaranya sungguh indah luar biasa
Satu ayat sanggup meruntuhkan air mata karena keindahan para  qoriah
Bertilawah dengan tartil dan tajwid yang sempurna

Sungguh hati terobati dengan malam yang luar biasa indah
Sekalipun bukan yang pertama tapi keindahan ini bagaikan candu yang ingin terus berulang
Suasana sunyi yang perawan dengan senandung para santri menginggatkan masa kecilku disuatu malam
Dimana akupun sanggup menyelesaikan khatam pertamaku diusia 10 tahun...
Dengan luka lebam diujung buku buku jariku...


SEHARUSNYA

Bicaralah padaku duhai hati
Tentang khilafku yang kuukir
Kusengaja maupun tanpa kusengaja
Baik yang terucap maupun yang terusik dihatiku sesaat

Bicara padaku duhai jiwa
Tentang rasaku yang terlarang maupun yang halal
Baik sekedar angan maupun yang terlanjur terikrarkan
Sanggupkah aku memisahkan antara yang benar dan mana yang sesat

Bicaralah padaku duhai kebenaran
Mana yang seharusnya dan mana yang tak sewajarnya
Sungguh aku meraba raba dalam gelap yg sesungguhnya terang
Haruskah hati bergelud dengan pertanyaan yg kian menyesatkan
Kiranya Peringatan telah datang kepadaku hingga aku menangis tak berkesudahan

Jika tangis itu adalah uraian air mata
Maka itu bukan sesuatu yang luar biasa
tapi jika tangis tak sanggup meneteskani air mata
Maka itu adalah sesak yang tak terhingga


Jalan tebentang didepan haruskah memutar haluan
Ataukah berbelok tampa tujuan
Atau terus saja berjalan sekalipun kubangan duri
Didepan hingga ku mencapai sebuah tujuan
Sanggupkah  melihat jawaban sekalipun gelap pekat
hingga tertulis dalam sebuah garis kehidupan
Bahwa inilah pilihan


PELUK AKU MENUJU SURGA KITA

Yang kuingat tentang engkau kekasih
Tentang pelukkanmu juga ciumanmu
Semua tentang keindahan duniawi
Kumengira keindahan itu adalah surga kita
Kemesraan itu adalah kebahagiaan nan abadi


Dalam sisa bening yang tersisa
Kubutuhkan pelukkanmu untuk merengkuhku menuju surga
Menuju tempat kelak kita kembali kerumah cinta yang abadi
Dimana kita bercumbu ditaman firdaus menjadi  muda tanpa pernah tua
Selalu bersemayam senyum terindah disetiap tarikan lembut bibir kita


Setiap hening mengusik serambi hati
Kuyakinkan bahwa engkau adalah rajaku yang tak akan kubantah titahmu
Karena engkaulah raja yg tersimpan dihatiku tak tergantikan sekalipun tersembunyi rasaku
Karena engkau tau bahwa kesetiaanku adalah pengabdianku kepadamu
Tak kupedulikan separuh hati berjalan bersamamu
Bagai manapun aku tetaplah milikmu


Cinta kau berikan kepadaku dengan caramu kau jadikan aku ratu
Demikianlah kita bercinta dalam episode menuju tua renta
Lalu kemudian kumerindukan pelukkanmu menuju surga sebenarnya
Dimana engkau dan aku mempertanggung jawabakan diakhir kehidupan kita kelak
Dimana semua menjadi hakim bagi kita tampa tersisa
Hanya Ikrar dimana kita berjanji untuk sehidup semati
Menjagaku Menjagamu hingga usia usai suatu saat nanti



HANYA SEDIKIT RUANG

Malam belum cukup tua..
ketika sholawat di wiritkan bagai tetabuan sakral di sebuah suraw tua...
Bertikar pandan juga bertirai kusam...harum tasbih berkayu cendana kian
merasuk pori pori yg duduk sila bersandingan mengenggam bebijian tasbih

bermunajad....dan ikhtikaf..
Duhai hati bagai terkulai dengan ayat ayat...
air mata bagai buraian bak embun kristal...terus saja bergulir
seiring tasbih terus berdentum bersautan...
mula mula perlahan lalu rancak bersautan..
Sunyi yg bermula lengang histeris dengan tangis


Duhai...jika saja waktu milikku sendiri..
Sungguh kuingin bercinta tanpa batasan dan waktu...
sekalipun diam sungguh kenikmatan itu masih terus berasa
hingga nafasku tertinggal dizikir yg belum usai kulirihkan....
Malam tak cukup tuntaskan melantumkan ayat ayat ajaib..
mengugah nuraniku....hingga kematian kurasakan tak begitu jauh dari kulit ariku..


Sepertiga malam di tiga malam telah berlalu..
sungguh sanggupkah melanjutkan sepertiga malam lainnya
Disisa waktu duniawiku dikenikmatan semu yg mengajakku bermain main
Dengan sandiwara dunia...dimana kugali kuburanku..
ahhh...malam menjadi tak biasa aku tengah menghitung hitung
Seberapa kuat aku bertahan dr bisikkan yg mempengaruhi akal dan fikiran..
Sungguh kerugian telah pula kuperhitungkan.....
Sesungguhnya kelalaianku jelas mutlak kerugianku...


Jauh angan memandang pada batas ruang yg kusediakan..
Pada bilik telisik hati yang tak henti berujar tentang sesuatu antara aku dan Engkau yg mengenggam jiwaku....