oleh Mawar Kikan pada 20 Juni 2011 jam 5:11
Seharusnya tak demikian dengan yang halal untukmu
Maaf aku bicara pada hatiku
Kemudian kusampaikan pada angin yang mengulung rasaku
Jika tersampaikan itu karena kutak sanggup menyimpan rahasiaku
Kuharap kau tak mendengar agar kau tak menoleh sedikitpun kepadaku
Biarkan segalanya pada tempat yang seharusnya
Tidak juga kuminta sebagian rahasia hati yang kau simpan kepadaku
Aku tak adil mengintip engkau dari lubang rahasia
Memandang sekilas saja tentang kidung asmaranti yang telah sampai di laci hati
Bukan…bukan aku tak menangis
Tapi tangisku cukuplah aksara berurai lirik dalam bait bait pincangku
Kau ada memang untuk sebuah alasan
Keabadian yang membuat engkau tertancap dalam lorong lorong hati
Tentang awal dan ketakutan akan akhir
Demikian ia tumbuh dan mekar tampa bantuan sang musim
Aku tak adil menghakimimu sebagai yang tak dipercaya
Karena dia ada sebelum aku ada…
Karena kita menyepakati tentang cinta yang tak menyentuh raga
Namun telah terpasung seluruh hati dan rasa
Pada janji yang kita gantungkan pada langit
Dengar jika kabut dihutan belantara sanggup menyembunyikan
Bunga dan kupu kupu dari pandangan mata
Tapi sang kabut tidak akan sanggup mengaburkan cinta dari hati kita.
Panas diladang kering biarlah hanya musim tentang padi yang menguning
Bukan tentang terik yang begitu gerah mana kala aku hanya diam tampa sapa
Cukupkan aku bahagia dengan secawan cinta yang kuteguk
Dan kunikmati tampa harus aku menjadi mabuk lupa akal dan kolbum salim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar