MENGENGAM REMBULAN
oleh Palupi Raharjo pada 14 September 2010 jam 18:50
Taukah engkau...bahwa hati ini rapuh bagai abu....
Mana kala tertiup angin...abu bertaburan menyerupai debu...
Taukah engkau....bahwasannya aku bagai angin....
Menyentuh setiap dinding...dedaaunan...hingga kelangit langit...tapi tak tersentuh...
Ketika...semua begitu gamang...menyelinap disetiap angan...
Ketika ....kata tak lagi sebagai ungkapan....semua bagai...tanah kering..
Ketika ....tanya mengaung disebuang lubang..yang dalam ...bagai sebuah sumur..
Maka...diam adalah hal yg sesungguhnya....
Mana yang terpilih dari setiap pilihan...
Mana yang dimiliki dari setiap keinginan....
Tak jugakah kau beranjak dari kegaduhan hati...
Tak bergermingkah...ketika suara hati memekik tak terkendali...
Mana kala langit mulai gelap'''
Perlahan resah bersandar dari rasa jengah...
Bagai keriangan mengengam rembulan...begitu indah ketika semua pada tempatnya..
Genggaman tak terlepas seakan mendekap rembulan begitu dekat...
Sementara langit pucat memudar...karena rembulan dalam genggaman...
Haruskah kugenggam erat...jika ditangan bulan tak memberi keindahan...
Jauh...kutatap langit gelap...betapa aku merusak indahnya malam...
Maka kulepas rembulan yang datang dalam genggaman...
Biarlah kau tetap indah dalam ingatan...
Selamanya tetaplah indah..
tak pernah pudar selamanya......
Aku mengenggam sisa rembulan...kurasakan tenang...tak berkesudahan....
Mana kala tertiup angin...abu bertaburan menyerupai debu...
Taukah engkau....bahwasannya aku bagai angin....
Menyentuh setiap dinding...dedaaunan...hingga kelangit langit...tapi tak tersentuh...
Ketika...semua begitu gamang...menyelinap disetiap angan...
Ketika ....kata tak lagi sebagai ungkapan....semua bagai...tanah kering..
Ketika ....tanya mengaung disebuang lubang..yang dalam ...bagai sebuah sumur..
Maka...diam adalah hal yg sesungguhnya....
Mana yang terpilih dari setiap pilihan...
Mana yang dimiliki dari setiap keinginan....
Tak jugakah kau beranjak dari kegaduhan hati...
Tak bergermingkah...ketika suara hati memekik tak terkendali...
Mana kala langit mulai gelap'''
Perlahan resah bersandar dari rasa jengah...
Bagai keriangan mengengam rembulan...begitu indah ketika semua pada tempatnya..
Genggaman tak terlepas seakan mendekap rembulan begitu dekat...
Sementara langit pucat memudar...karena rembulan dalam genggaman...
Haruskah kugenggam erat...jika ditangan bulan tak memberi keindahan...
Jauh...kutatap langit gelap...betapa aku merusak indahnya malam...
Maka kulepas rembulan yang datang dalam genggaman...
Biarlah kau tetap indah dalam ingatan...
Selamanya tetaplah indah..
tak pernah pudar selamanya......
Aku mengenggam sisa rembulan...kurasakan tenang...tak berkesudahan....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar