MERAIH PELANGI DIANTARA TERIK
oleh Palupi Raharjo pada 03 Desember 2010 jam 7:16
Sudahkah kau tengok pelangi diterik yang panas
Seperti tarian yang meliuk di jalanan yang hitam
Panas yang teramat bagai pelangi halusinasi
Mana yang nyata mana yang faktamorgana
Seperti bara yang tak beranjak dari kisi hati tak bercahaya
Mana yang terlihat baik buruk yang bercampur dusta
Seperti kebohongan namun nampak seperti sebuah kejujuran
Bilakah hati bagai cermin yang berkaca pada angan kosong
Sempurnakah sebuah kemunafikkan yang berhias kerudung kebencian

Matamu nanar diantara teduh yang tak singgah
Berurai ucap ungkapkan amarah
Namun katamu tetap santun bagai syair buat sang malam
Mana yang ingin kau sampaikan manakala pelangi seharusnya bukan hadir disaat siang
Bukankah ada jeda yang tak sempat kau teriakkan
Hingga pelangi hanya ilusi diterik yang panas
Sepanas hati yang memenuhi ronga nurani terbakar hingga melegamkan rasa
Cukuplah tak akan pernah ada pelangi disaat terik
Nurani menjadi buta karena tak mampu kendalikan amarah
Buka lah ruang hati untuk sejenak bermeditasi
Pada satu kesempatan untuk merenung dibatas bimbang yg tak henti
Sunyikan sejenak untuk ruang kosong yang terisi benci
Hingga kau raih pelangi disenja yang sepantasnya
Bukan meraih pelangi diantara terik
Sudahlah bertasbih saja di siang hari
Sebab akan dikirimkan kepadmu bisikan gaib diantara suara yang beradu
Seperti benturan cahaya
seperti percikkan api ....
demikian sinar adalah sebuah tanda....

Seperti tarian yang meliuk di jalanan yang hitam
Panas yang teramat bagai pelangi halusinasi
Mana yang nyata mana yang faktamorgana
Seperti bara yang tak beranjak dari kisi hati tak bercahaya
Mana yang terlihat baik buruk yang bercampur dusta
Seperti kebohongan namun nampak seperti sebuah kejujuran
Bilakah hati bagai cermin yang berkaca pada angan kosong
Sempurnakah sebuah kemunafikkan yang berhias kerudung kebencian

Matamu nanar diantara teduh yang tak singgah
Berurai ucap ungkapkan amarah
Namun katamu tetap santun bagai syair buat sang malam
Mana yang ingin kau sampaikan manakala pelangi seharusnya bukan hadir disaat siang
Bukankah ada jeda yang tak sempat kau teriakkan
Hingga pelangi hanya ilusi diterik yang panas
Sepanas hati yang memenuhi ronga nurani terbakar hingga melegamkan rasa
Cukuplah tak akan pernah ada pelangi disaat terik
Nurani menjadi buta karena tak mampu kendalikan amarah
Buka lah ruang hati untuk sejenak bermeditasi
Pada satu kesempatan untuk merenung dibatas bimbang yg tak henti
Sunyikan sejenak untuk ruang kosong yang terisi benci
Hingga kau raih pelangi disenja yang sepantasnya
Bukan meraih pelangi diantara terik
Sudahlah bertasbih saja di siang hari
Sebab akan dikirimkan kepadmu bisikan gaib diantara suara yang beradu
Seperti benturan cahaya
seperti percikkan api ....
demikian sinar adalah sebuah tanda....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar