oleh Bilqis Kusuma pada 19 Mei 2011 jam 8:54
Ruang sunyimu telah tertutup
perlahan cakrawala membuka pintu realitamu
Menatap kaki langit mengapai lelangit
mengibas perih diantara bebatuan laramu
berdiri engkau diantara pijakkan bumi kokoh
Kau kembali membusungkan keangkuan
Menepis cinta mati berkalang perih
Dinding sunyi tak lagi bergetar
Kala hembusan angin memilin sebagian pemikiran kusutmu
Mengabaikan perih menjadi lelucon topeng bidadari
Menebarkan harum bunga melati
Wangi hingga mencapai lelangit
Mengantarkan sebagian jiwamu luluh diantara pelangi
Kemudian Engkau sisakan senyum
Ruang sunyimu telah terkunci
Dalam ikrar tua di hamparan bumi berarogan kebencian yg mustahil
Lelangit Matamu tak sanggup mendendam
Cintamu adalah impian dunia hati
Maka kau nikmati rahasiamu dalam kisah topeng sang bidadari
Hanya ada senyum mengawan yg kau teriakan hingga mencapai langit
Bukan tangis yang semalam kau bisikkan pada bumi
Tapi janjimu yang kau selipkan lewat harum sang melati

perlahan cakrawala membuka pintu realitamu
Menatap kaki langit mengapai lelangit
mengibas perih diantara bebatuan laramu
berdiri engkau diantara pijakkan bumi kokoh
Kau kembali membusungkan keangkuan
Menepis cinta mati berkalang perih
Dinding sunyi tak lagi bergetar
Kala hembusan angin memilin sebagian pemikiran kusutmu
Mengabaikan perih menjadi lelucon topeng bidadari
Menebarkan harum bunga melati
Wangi hingga mencapai lelangit
Mengantarkan sebagian jiwamu luluh diantara pelangi
Kemudian Engkau sisakan senyum
Ruang sunyimu telah terkunci
Dalam ikrar tua di hamparan bumi berarogan kebencian yg mustahil
Lelangit Matamu tak sanggup mendendam
Cintamu adalah impian dunia hati
Maka kau nikmati rahasiamu dalam kisah topeng sang bidadari
Hanya ada senyum mengawan yg kau teriakan hingga mencapai langit
Bukan tangis yang semalam kau bisikkan pada bumi
Tapi janjimu yang kau selipkan lewat harum sang melati

Tidak ada komentar:
Posting Komentar