Oleh Bilqis Kusuma pada 17 Mei 2011 jam 19:56
16- maret- 2011
Aku rencananya akan kemah di pegunungan Ungaran daerah ngipik, lokasi Perkebunan, kopi,teh dan hutan pala milik pertamina. siang yg cerah juga udara yang sejuk akan sangat menyenangkan diatas sana, tapi ternyata sore hari tidak mendukung mendung mengantung pekat dilangit, sepertinya hujan deras akan turun.
Jam 5 sore hujan turun dengan derasnya, acara kemahku gagal total, akupun mengurungkan niatku kemah akupun mengungsi disebuah mushola dekat sendang amanah...
Jam 7 malam langit sudah kembali cerah, aku putuskan kembali pulang kerumah...aku lupa membawa kamera , jadi kuputuskan untuk pulang.
Aku punya kesenangan sendiri, ketika suasana hatiku lagi tak menentu aku selalu ingin berada ditempat sunyi, bahkan kesenanganku diatas gunung kadang sangat memberikan ketentraman hatiku.
Aku minta ijin suamiku untuk kembali kegunung Suroloyo, Selasa Pon 17 mei 2011, mulanya suamiku tak memberikan ijin, tapi akhirnya akupun diberikan ijin untuk naik kepuncak suroloyo, mungkin suamiku khawatir karena medan keatas puncak sangat berat dan sulit, Dalam rumah tangga pasti ada konflik didalamnya, demikian pula dalam kehidupan rumah tanggaku.
Tapi bagiku masalah apapun itu adalah hal yg bisa , dan pasti ada pemecahannya.
Aku selalu menganggap setiap persoalan pasti akan ada jalan keluar, Untuk itu dengan kejenuhan yang ada, selain menyepi dan intropeksi diri, aku ingin mengabaikan kegundahan hatiku untuk mendaki gunung Suroloyo....Surowani, loyo mati....hanya yang berani mati dan tekat yg kuat yang sanggup mencapai puncak suroloyo hingga menuju Sendang 7 dimana disana tempat mandi para Dewa dan sang Bidadari...dan tempat pertapaan yg berada ribuan kilo diatas gunung Ungaran...
Bersama Mbah Jaitun juru kunci makam raden Ceguk dan nyi Suko, seorang cikal bakal penyebar agama islam tanah ungaran..Keinginanku hanya satu berjalan ketempat yg tinggi dan sunyi meluapkan kejenuhan dan kekesalan hatiku...menyusuri tanah perbukitan setapak kami mulai pendakian jam 09:00 siang, dengan bekal air putih 1 liter, permen dan Rokok..kami melalui jalan mendaki...sepanjang perjalanan banyak wejangan dari mbah jaitun kepadaku, bahwa dalam hidup harus lebih banyak sabar, iklas dan bersyukur...
Kesederhanaan mbah jaitun dalam memberi wejangan sangat menyentuh hatiku...
Mbah Jaitun yang berusia 70 tahun sungguh sangat luar biasa, satmina tubuhnya kuacungkan jempol...aku yang berusia 40 tahun belum apa apa dibandingakan kekuatan fisik mbah jaitun..
Belum ada wanita yang naik keatas Puncak Gunung Suroloyo, kadang Laki lakipun tidak akan sanggup naik hingga kepancuran 7...sudah terlalu sering mbah jaitun mengantar pengunjung naik keatas puncak, tapi kebanyakkan mereka gagal naik dan memutuskan turun.

Bersama mbah Jaitun, melintasi medan yang sangat berat berbeda ketika masih muda ketika aku naik ke lawu, merapi dan merbabu...disini aku dan mbah jaitun harus melewati jalan yang penuh belukar dan berduri...kadang melalui jalan setapak yg sering dilintasi mereka yg mendaki...kadang jalanan kembali dipenuhi ranting dan kayu kayu berserakkan bahkan rerumputan yg tinggi...semakin naik keatas semakin banyak kendala yg kuhadapi...tapi semua itu kuabaikan, aku selalu membawa tasbih dalam perjalanan setiap langkahku naik keatas puncak adalah wirid panjangku, berdoa memohon kekuatan, ketentraman, kesabaran untuk sanggup sampai kepuncak sana...walau kadang aku harus berhenti berulang kali untuk mengatur nafasku yg tersengal..

Semakin naik semakin tebal kabut, bau kabut kali ini lain dari biasa agak sedikit menyengat dan berbau...namun semua itu kutepiskan jauh jauh, seiring pemandangan yg luar biasa indah dan suara burung dan hewan hutan yang begitu memukau hatiku...sungguh aku yakin keberadaanku disini juga atas kehendak Allah swt, maka yang kufikirkan hanya doa doa yang kupanjatkan, apa yang kulalui adalah cerminan perjalanan kehidupanku. maka apapun yg kuhadapi aku hanya menjalani sekuat hatiku.

Banyak hal yang kutemui diatas sini, semua luar biasa untukku, semua adalah kuasa Allah untuk setiap apapun yg kulihat dengan mata kepalaku.Dengan bimbingan mbah Jaitun aku yakin aku pasti sanggup naik keatas puncak..3 jam perjalanan cukup membuatku lelah, sengaja kuabadikan perjalanan keatas agar bisa kujadikan kenang kenangan bagaimana aku berusaha melalui setiap rintangn yg ada, mendengar suara gamelan jawa sayup sayup diantara kabut membuat berdiri bulu kudukku pada hal aku berada di ribuan kilo dari perkampungan ngaglik, aku semakin kencang mengenggam tasbih menyebut nama Allah atas segala kekuasaanNya.Apapun yang terlihat dan yang kudengar adalah tipuan hatiku..dimana semua itu hanya untuk melemahkan tekadku sampai keatas sana.

Jadi teringat beberapa orang yg meragukan kemampuanku naik ke sendang Suroloyo, dibawah tadi beberapa orang mengatakan demikian padaku."Nggak mungkin sampai bu, naik kesana nggak sembarang orang bisa dan kuat, paling sampai makam nyi suko sudah gak sanggup untuk terus naik.." kata kata yg semakin menguatkan tekadku...ada apa diatas sana, sehingga banyak yg tak sanggup melalui rintangan yg ada.
Dan benar saja aku mengalami hal yg sangat melelahkan hati dan fikiranku, apa lagi puluhan lintah menempel dikakiku...mulanya aku teriak jijik dengan hewan kecil hitam yg mulai kenyang mengidsap darahku..tapi sudahlah aku juga tak merasakan sakit kenapa kufikirkan..aku tetep berjalan mengikuti langkah bah Jaitun yg terus saja mengunakan aritnya menebangi ranting juga rumputan berduri...kali ini kami ambil jalan pintas hingga harus bersusah payah membuka jalan kedepan...

Jam menunjukkan 13;25
Aku dan mbah Jaitun istirahat sebentar , perlakuan mbah sangat mengesankan, karena dia selalu memotong dedaunan untuk alas dudukku setiap kali berhenti istirahat...selalui diberikan wejangan dan kata kata yg sangat menentramkan hatiku, setiap orang pasti punya cara sendiri untuk mengobati kesedihan hati, kegundahan hati, demikian aku berda jauh diatas sini untuk mengobati kegundahanku, benar adanya ketentraman hati hanya diri yg sanggup mencari...maka aku memang tengah mencari kententraman hatiku sekalipun aku harus berjalan menuruti suara hatiku...yach aku menemukan ketenangan yg luar biasa, ketenangan dimana aku menikmati setiap yg ada..

Tak terasa langit mulai redup mendung mengantung tapi hujan tak juga turun, suasana sore yg mendung terus saja tak membuat tekatku mundur, perjalanan yg luar biasa exstrem dan liar, aku menikmati sore diatas gunung...sesekali aku sempat melihat rusa dari kejauhan, sungguh pemandangan yg indah, suara lutung terdengar nyaring berteriak melengking di atas pepohonan pinus...Alhamdulillah jam 13:30 aku sampai di tempat yg tertinggi d Gunung Suroloyo, i Sendang bidadari, dimana disana ada 7 pancuran air dengan lumut hijau disekitarnya.
Herannya disekitar situ tak ada rumput liar seperti sebelumnya aku melewati hutan ...semua dinding sendang ditumbuhi lumut...mungkin cahaya matahari tak sampai ketanahnya hingga udara menjadi lembab, sangat cocok bagi tumbuh lumut..hanya tanah dimana kupijak bersih dari rerumputan...hanya tanah dan daun kering yg membusuk..

Aku mencuci kaki dan mukaku dengan air sendang....sejuk sampai kehati, memang aura yg ada lebih tenang dan berbeda dari sendang nyi suko...disini lebih senyap...tak ada suara burung atau hewan hutan ...sunyi yg demikian nikmat...di sekitar sendang, ada sebuah pohon besar, dimana dibawahnya ada goa kecil, mungkin tempat orang orang yg pernah tapa disini, mbah Jaitun menawarkan apa aku mau nyepi disini, aku tertawa, mendengar pertanyaan mbah jaitun,"Nggak lah mbah, aku hanya ingin duduk diam dan menikmati suasana hutan...jika aku memohon sesuatu disini, semua hanya untuk keridoan Allah, berdoa ditempat sunyi dan paling tertinggi mungkin itu caraku untuk menghilangkan kesedihanku..
Kata si Mbah kalau nyepi disini 7 hari, maka sendang yg terlihat bukan sendang seperti ini, melainkan sendang bidadari yg memiliki khasiat yg luar biasa...dari setiap air yg mengalir...
"Ach...nggak lah mbah...aku gak ingin cari yg seperti itu...jika ada berkah yg kuinginkan semua karena berkah sang Kuasa...karena aku percaya aku bisa sampai kesini juga atas rahmat dan hidayahnya...Insyak Allah ada berkahNya ..mbah.."


Tak terasa 3 jam aku duduk diatas Gunung Suroloyo, menikmati sunyi sebagai obat gundah hati...demikian aku melewati 6 jam naik keatas Gunung dengan kegembiraan yg luar biasa, diusia 40 tahun aku sanggup naik keatas gunung yg tidak semua orang sanggup mencapai ketempat ini, memang kenekatanku untuk ingin tau tentang Legenda Gunung Suroloyo dan Mata air di Sendang Bidadari membuat aku ingin tau lebih banyak...dan aku senang aku bertemu dengan wanita cantik dengan kemben batik yg kuliat diantara kabut yg pekat...Subhanallah Cantinya...kecantikkanya menebar aura ketenangan yang luar biasa....


hmmmmm...
BalasHapusjadikan pingin jg nich..