Tengah kubisikkan tembang sunyi berkabut unggu
Diantara pudarnya sinar rembulan
Juga bekap gelap diujung malam
Bukan sekedar nada sunyi diantara dingin
Melainkan dawai bisu tampa syair
Bagaimana kulantumkan puisi indah tentang malam
Jika diantara kata tak tertuang dengan sempurna
Hanya pengalan kata disederet abjad yang cacat makna
Demikian satu persatu kutelanjangi setiap ruang raga
Dalam kalimat mistis bahkan kalimat takserupa
Hingga malamku bertembang sunyi
Kemudian perlahan bagai bongkahan belulang tampa nyawa
Demikian aku dalam dawai sunyi ketika tembang tak bergema
Hanya segerombolan asa yang melanglang serasa jengah
Kemudian berhenti sejenak di kekosongan yang tak tertata
Dalam sebuah bilik yang kunamakan jiwa...
Dalam sebuah dinding yang kunamakan rasa
Lantas kuterjemahkan menjadi sebuah jiwa yang miskin rasa
( Wajah tampa rupa bahkan tampa bayangan )
Diantara pudarnya sinar rembulan
Juga bekap gelap diujung malam
Bukan sekedar nada sunyi diantara dingin
Melainkan dawai bisu tampa syair
Bagaimana kulantumkan puisi indah tentang malam
Jika diantara kata tak tertuang dengan sempurna
Hanya pengalan kata disederet abjad yang cacat makna
Demikian satu persatu kutelanjangi setiap ruang raga
Dalam kalimat mistis bahkan kalimat takserupa
Hingga malamku bertembang sunyi
Kemudian perlahan bagai bongkahan belulang tampa nyawa
Demikian aku dalam dawai sunyi ketika tembang tak bergema
Hanya segerombolan asa yang melanglang serasa jengah
Kemudian berhenti sejenak di kekosongan yang tak tertata
Dalam sebuah bilik yang kunamakan jiwa...
Dalam sebuah dinding yang kunamakan rasa
Lantas kuterjemahkan menjadi sebuah jiwa yang miskin rasa
( Wajah tampa rupa bahkan tampa bayangan )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar