oleh Bilqis Kusuma pada 03 Maret 2011 jam 10:08
Beras di tempayan tak lagi berisi
Ratap membisu seolah tak layak teteskan air mata
Semua membisu tak boleh berteriak
Tak ada yg bisa di belanjakan semua tak saja menipis
Nyaris tak tersisa kehidupanpun
Sepondok kecil dirumah sunyi tak bercanda
Diam menghitung hari,waktu bahkan cemas yg tak berkesudahan
Menatap kosong langit langit yang tak berujung
Menghitung musim dari waktu kewaktu
Jeritan sengau mencekat kerongkongan
Bahkan nyaris bisu tuli dan buta tentang sekitar
Dimanakah Sang raja perkasa
Yang memeluk erat ketika suka dan duka di ucapkan
Menemani bersenandung bahkan menari bak ular sanca
Meniup seruling ketika sepondok kecil bersama sama tertawa dalam derai seirama
Kini...Sang Raja tak lagi tunjukkan muka hadirpun hanya sekedar mencacah jiwa
Kini Sang wanita menjerit diantara musim paceklik yang tak bermusim
Semua sama tak ada beda menjadi pecundang dalam keputus asaan
Kekuatan betina hanya untuk pelita jiwa
Yang memberi kekuatan untuk tetap bertahan dan tak ingin menyerah
Manakala hati terasa lelah kekuatan nafas hanya sang buah hati saja
Pada hal semua nyaris gelap bagi sang betina
Lelah yang tiada akhir tak cukup membayar harga mati
tawa yang ingin digenggamnya semakin menjauh dr jangkauannya
Sempat dia berucap...ahhh aku ingin mati saja...tapi aku takut...
@ Catatan buat seseorang...
Tak seorangpun yg terlepas dari beban hidup
Cukup ataupun kurang semua dgn porsi masing masing
Sekali waktu kita menangis lain waktu kita tertawa
Jangan putus asa...tuhan tak pernah salah memberi coba
Kau mungkin terpilih untuk tetap kuat
Sebagai keiklasanmu dgn apa yg diberikan kepada kita..
Pada saatnya semua berakhir...
walau harus lelah menunggu saatnya tiba
Tidak ada komentar:
Posting Komentar