Entri Populer

Senin, 04 April 2011

SEHARUSNYA

Bicaralah padaku duhai hati
Tentang khilafku yang kuukir
Kusengaja maupun tanpa kusengaja
Baik yang terucap maupun yang terusik dihatiku sesaat

Bicara padaku duhai jiwa
Tentang rasaku yang terlarang maupun yang halal
Baik sekedar angan maupun yang terlanjur terikrarkan
Sanggupkah aku memisahkan antara yang benar dan mana yang sesat

Bicaralah padaku duhai kebenaran
Mana yang seharusnya dan mana yang tak sewajarnya
Sungguh aku meraba raba dalam gelap yg sesungguhnya terang
Haruskah hati bergelud dengan pertanyaan yg kian menyesatkan
Kiranya Peringatan telah datang kepadaku hingga aku menangis tak berkesudahan

Jika tangis itu adalah uraian air mata
Maka itu bukan sesuatu yang luar biasa
tapi jika tangis tak sanggup meneteskani air mata
Maka itu adalah sesak yang tak terhingga


Jalan tebentang didepan haruskah memutar haluan
Ataukah berbelok tampa tujuan
Atau terus saja berjalan sekalipun kubangan duri
Didepan hingga ku mencapai sebuah tujuan
Sanggupkah  melihat jawaban sekalipun gelap pekat
hingga tertulis dalam sebuah garis kehidupan
Bahwa inilah pilihan


PELUK AKU MENUJU SURGA KITA

Yang kuingat tentang engkau kekasih
Tentang pelukkanmu juga ciumanmu
Semua tentang keindahan duniawi
Kumengira keindahan itu adalah surga kita
Kemesraan itu adalah kebahagiaan nan abadi


Dalam sisa bening yang tersisa
Kubutuhkan pelukkanmu untuk merengkuhku menuju surga
Menuju tempat kelak kita kembali kerumah cinta yang abadi
Dimana kita bercumbu ditaman firdaus menjadi  muda tanpa pernah tua
Selalu bersemayam senyum terindah disetiap tarikan lembut bibir kita


Setiap hening mengusik serambi hati
Kuyakinkan bahwa engkau adalah rajaku yang tak akan kubantah titahmu
Karena engkaulah raja yg tersimpan dihatiku tak tergantikan sekalipun tersembunyi rasaku
Karena engkau tau bahwa kesetiaanku adalah pengabdianku kepadamu
Tak kupedulikan separuh hati berjalan bersamamu
Bagai manapun aku tetaplah milikmu


Cinta kau berikan kepadaku dengan caramu kau jadikan aku ratu
Demikianlah kita bercinta dalam episode menuju tua renta
Lalu kemudian kumerindukan pelukkanmu menuju surga sebenarnya
Dimana engkau dan aku mempertanggung jawabakan diakhir kehidupan kita kelak
Dimana semua menjadi hakim bagi kita tampa tersisa
Hanya Ikrar dimana kita berjanji untuk sehidup semati
Menjagaku Menjagamu hingga usia usai suatu saat nanti



HANYA SEDIKIT RUANG

Malam belum cukup tua..
ketika sholawat di wiritkan bagai tetabuan sakral di sebuah suraw tua...
Bertikar pandan juga bertirai kusam...harum tasbih berkayu cendana kian
merasuk pori pori yg duduk sila bersandingan mengenggam bebijian tasbih

bermunajad....dan ikhtikaf..
Duhai hati bagai terkulai dengan ayat ayat...
air mata bagai buraian bak embun kristal...terus saja bergulir
seiring tasbih terus berdentum bersautan...
mula mula perlahan lalu rancak bersautan..
Sunyi yg bermula lengang histeris dengan tangis


Duhai...jika saja waktu milikku sendiri..
Sungguh kuingin bercinta tanpa batasan dan waktu...
sekalipun diam sungguh kenikmatan itu masih terus berasa
hingga nafasku tertinggal dizikir yg belum usai kulirihkan....
Malam tak cukup tuntaskan melantumkan ayat ayat ajaib..
mengugah nuraniku....hingga kematian kurasakan tak begitu jauh dari kulit ariku..


Sepertiga malam di tiga malam telah berlalu..
sungguh sanggupkah melanjutkan sepertiga malam lainnya
Disisa waktu duniawiku dikenikmatan semu yg mengajakku bermain main
Dengan sandiwara dunia...dimana kugali kuburanku..
ahhh...malam menjadi tak biasa aku tengah menghitung hitung
Seberapa kuat aku bertahan dr bisikkan yg mempengaruhi akal dan fikiran..
Sungguh kerugian telah pula kuperhitungkan.....
Sesungguhnya kelalaianku jelas mutlak kerugianku...


Jauh angan memandang pada batas ruang yg kusediakan..
Pada bilik telisik hati yang tak henti berujar tentang sesuatu antara aku dan Engkau yg mengenggam jiwaku....