Oleh Mawar Kikan / Bilqis Kusuma pada 20 juni 2011
Juni di akhir penghujung
Canda sang balada dari negri langit
Turun hantarkan seikat syair untuk kucium
Pada kelopak kelopak kata
Pada putik putik rasa
Lalu menebarkan wewangian hati
Ditaman mana syair dipetik
Indahnya bagai bunga seroja dari arsy
Aku inginkan satu tangkai syair
yang kau kirimkan dari negri hati
Tanpa utusan kau hadiahkan kepadaku
Pilihkan syair yang terbaik untuk kusimpan
Ingin kutuliskan pada pita emas pengikat
Bahwa syair itu milikku
Kemudian kau harus melupakan syair itu pernah kau tulis
Namun tinta yg tertahta tak akan kering dari jangkauan rasamu
Ingat syair itu adalah syair tentang nafasku
Selasa, 21 Juni 2011
SAHABAT DALAM CAKRAWALA IMAJINASI TALENTA
Aku meraba asa..ketika nyaris nafas ku terhenti
Ketika sunyi demikian sekarat
Aku mengelana kenegri asing
Ada resah mengantung diantara dinding membisu
Bebauan aroma obat menjalar kesetiap nadi
Ach...ruang tak lagi menyekat raga
Peraduan bagai tirani pikiran yang sakit
Aku tak beranjak
aku tetap membungkam nurani menjerit
Lalu kukumpulkan naluriku
Menyapa demensi sunyi kepada kawan dinegriasing
Aku tak disini seharusnya
Tapi aku tak ingin terpasung
Dan aku menyapa mu dengan instink
Kubalut dengan nurani tampa prasangka
Agar kau hadir sebagai sahabat hati diantara kalut yang terbalut
Dengar kau ada dalam imajinasi beraura positif
Lalu kita berdiskusi kesegala penjuru
Melihat arah mata angin
Juga menghitung malam yang semakin tua
Dengar adalah bintang yang berpijar
Aku percaya disingasana yang terbaik kita bercengkrama
Jendela kita terbuka selebar bola dunia
Karena engkau sahabat dalam imajinasi talenta
Jangan pergi sebelum matahari menerangi perputaran bumi
Disini kau dan aku telah menjadi sahabat hati

Ketika sunyi demikian sekarat
Aku mengelana kenegri asing
Ada resah mengantung diantara dinding membisu
Bebauan aroma obat menjalar kesetiap nadi
Ach...ruang tak lagi menyekat raga
Peraduan bagai tirani pikiran yang sakit
Aku tak beranjak
aku tetap membungkam nurani menjerit
Lalu kukumpulkan naluriku
Menyapa demensi sunyi kepada kawan dinegriasing
Aku tak disini seharusnya
Tapi aku tak ingin terpasung
Dan aku menyapa mu dengan instink
Kubalut dengan nurani tampa prasangka
Agar kau hadir sebagai sahabat hati diantara kalut yang terbalut
Dengar kau ada dalam imajinasi beraura positif
Lalu kita berdiskusi kesegala penjuru
Melihat arah mata angin
Juga menghitung malam yang semakin tua
Dengar adalah bintang yang berpijar
Aku percaya disingasana yang terbaik kita bercengkrama
Jendela kita terbuka selebar bola dunia
Karena engkau sahabat dalam imajinasi talenta
Jangan pergi sebelum matahari menerangi perputaran bumi
Disini kau dan aku telah menjadi sahabat hati

Minggu, 19 Juni 2011
THEOGONIA TENTANG KITA
Bagai Theogonia tentang kelahiran para dewa
Aku tersenyum dengan sederet abjad abjad buta
Mengiring sebagian jiwaku terbang kelangit
Melintasi cakrawala asa hingga merapat kedinding hati
Duhai dimana engkau sanggup kudekap dalam imajinasi tak terbatas
Aku manggilmu dalam bisikkan angin semilir rindu
Mendulang sekumpulan debu asaku
Untuk kujadikan susunan bebatuan hasrat suci
Yang kusimpan diam diam
Membumbungkan galaksi rasa
Kepada antariksa jiwa yang lama terkapar tak beraga
Kemilau batinku bagai pualam terangi lelangit luas
Mimpiku baru saja kumulai dengan terompet cinta sang anumerta rasa
Perlahan kujaring abjad abjad buta menjadi sekumpulan syair bianglala
Indah merona tebarkan haru serta selipkan putik bahagia
Diujung sisa rasa yang kupunya
Engkaukah yang terpilih
Dari sekian ruang yang terjaga dalam teralis tak berwujud
Dengar hari ini adalah janji atas nama rahim bunda
Kalam Sang Aprodit sampaikan bait bait indah
Tentang utusan langit yag diutus menuju gunung olimpus
Ach.... aku mengalaxi kenegri antariksa dilangit tak berujung
Menyepakati janji disebuah detik tak bermenit
Ketika anumerta rasa kembali beranjak pulang kedunia meditasi
Dewi hades di dunia bawah hati telah mencairkan jelaga rasa
Sanggupkah kusungi rasa yang membuncah menuju pelangi
Sungguh tak akan sanggup kumenata runtuhan langit
Jika janji ini hanya kidung dinegri tanpa nama
Demikian kupasrahkan kepada hermes utusan dewa zeus
Untuk menjaga theogonia tentang kita.
Mengabadikan sekilas saja cerita dewa langit
Yang bermenung di negri tampa ruang
Aku tersenyum dengan sederet abjad abjad buta
Mengiring sebagian jiwaku terbang kelangit
Melintasi cakrawala asa hingga merapat kedinding hati
Duhai dimana engkau sanggup kudekap dalam imajinasi tak terbatas
Aku manggilmu dalam bisikkan angin semilir rindu
Mendulang sekumpulan debu asaku
Untuk kujadikan susunan bebatuan hasrat suci
Yang kusimpan diam diam
Membumbungkan galaksi rasa
Kepada antariksa jiwa yang lama terkapar tak beraga
Kemilau batinku bagai pualam terangi lelangit luas
Mimpiku baru saja kumulai dengan terompet cinta sang anumerta rasa
Perlahan kujaring abjad abjad buta menjadi sekumpulan syair bianglala
Indah merona tebarkan haru serta selipkan putik bahagia
Diujung sisa rasa yang kupunya
Engkaukah yang terpilih
Dari sekian ruang yang terjaga dalam teralis tak berwujud
Dengar hari ini adalah janji atas nama rahim bunda
Kalam Sang Aprodit sampaikan bait bait indah
Tentang utusan langit yag diutus menuju gunung olimpus
Ach.... aku mengalaxi kenegri antariksa dilangit tak berujung
Menyepakati janji disebuah detik tak bermenit
Ketika anumerta rasa kembali beranjak pulang kedunia meditasi
Dewi hades di dunia bawah hati telah mencairkan jelaga rasa
Sanggupkah kusungi rasa yang membuncah menuju pelangi
Sungguh tak akan sanggup kumenata runtuhan langit
Jika janji ini hanya kidung dinegri tanpa nama
Demikian kupasrahkan kepada hermes utusan dewa zeus
Untuk menjaga theogonia tentang kita.
Mengabadikan sekilas saja cerita dewa langit
Yang bermenung di negri tampa ruang
Langganan:
Postingan (Atom)