Entri Populer

Senin, 03 Januari 2011

TEMBANG SUNYI

Tengah kubisikkan tembang sunyi berkabut unggu
Diantara pudarnya sinar rembulan
Juga bekap gelap diujung malam
Bukan sekedar nada sunyi diantara dingin
Melainkan dawai bisu tampa syair


Bagaimana kulantumkan puisi indah tentang malam
Jika diantara kata tak tertuang dengan sempurna
Hanya pengalan kata disederet abjad yang cacat makna
Demikian satu persatu kutelanjangi setiap ruang raga
Dalam kalimat mistis bahkan kalimat takserupa
Hingga malamku bertembang sunyi
Kemudian perlahan bagai bongkahan belulang tampa nyawa


Demikian aku dalam dawai sunyi ketika tembang tak bergema
Hanya segerombolan asa yang melanglang serasa jengah
Kemudian berhenti sejenak di kekosongan yang  tak tertata
Dalam sebuah bilik yang kunamakan jiwa...
Dalam sebuah dinding yang kunamakan rasa
Lantas kuterjemahkan menjadi sebuah jiwa yang miskin rasa
( Wajah tampa rupa bahkan tampa bayangan )

Selasa, 28 Desember 2010

SUDAHLAH


oleh Kusumaning Palupi pada 27 Desember 2010 jam 11:05
Selagi kita asik diam
Adakah angin terdengar lembut olehmu
Suara yang lama senyap
Semalam kembali ramah menyapaku

Hadir manakala lahir benih benih lembut manis
Jiwa tampa sadar telah dipersatukan
Lihatlah musim cinta di desember yang gerimis
Seolah bersemi di sungai dan ladang ladang

Sinar yang menembus kabut
Dari balik hujan  semesta alam
Kupejamkan mata siluit dirimu di dalam rangkaian otakku
Ach sudalah...saatnya kurebahkan tubuhku
Untuk  terlelap tampa terusik fikiranku

Demikianlah musim cinta menebar keseluruh hati hati yang lainnya
Bahkan musim panca roba tak juga mengusik hati hati lembut manis
Kemudian aku tertidur dalam nyanyian semusim
Sementara yang lainnya sibuk berdiskusi tentang rasa yang gamang...



Seperti perjanjian sang pengantin

Bilakah malam telah usai untukku
Hingga tersadar dari diammu
Seharusnya tak kau biarkan aku tampamu
Hingga  sempat kukehilangan kepercayaan itu

Bilakah kau mengerti bahwa luka itu tergores dihatiku
Meskipun aku tetap sama seperti dulu
namun tak ingin kutengelam lebih jauh
Harusnya semua yg tertoreh tak terjadi dalam diamku
Seharusnya kau ada saat kutersesat karenamu
lalu masih adakah kesempatan untuk berbenah langkah

Agar hidup lebih bermakna  tidak hanya sekedar hidup
Bilakah dapat merubah apa yg terlewati bagai pelangi indah tak tersentuh
Atau  hanya pelangi disebuah kanvas lusuh yg bisa tersentuh
Kemudian tak indah lagi  karena pudar lambat laun setelah waktu berlalu
kau tau bahwa keindahan itu milik kita
Harusnya semua terjaga dalam genggamanmu
lalu perlahan kesepakatan itu kita ikrarkan
Seperti janji pengantin dalam ikrar yang kita sepakati kemarin malam

Bilakah malam menjadi saksi
Bahwa satu masa dimana kita saling berbagi
Antara pilihan yang sama sama bukan pilihan
lalu kemudian semua bagai terlupakan
Hingga kita yakin bahwa dalam sebuah masa ada baik dan buruk
Ada suka ada pula duka
Lalu adakah  jalan terbaik setiap sesal yang kita sepakati
obati luka yg terlanjur tercipta

Perlahan lagit malam kurasakan dingin
kubiarkan  diamku dengan perjanjian yang tak tertulis
hanya sebuah kegalauan yang ingin kutepis
Bahwa tak ingin melukai  setiap perjalanan yang sudah tertulis dalam hidup
Sungguh demikian aku tetap dalam genggamanmu.
Sampai kapan pun demikian itu pilihanku
Tak akan kuubah lagi hingga ajal menjemput